Ilustrasi: Shutterstock

Jepang dikenal sebagai negara yang bersih, rapi, juga berisi orang-orang dengan manajemen yang baik. Jika Marie Kondo dikenal mempromosikan metode berbenah bagi mereka yang kesulitan merapikan barang, ada pula Hani Motoko, seorang jurnalis wanita pertama di Jepang, yang pada 1904 mengenalkan seni mengatur keuangan bernama kakeibo.

Pada dasarnya kakeibo adalah pembukuan pendapatan dan pengeluaran keuangan Anda. Tidak ada aplikasi, tidak ada teknologi digital, tidak ada perhitungan matematika yang njelimet.

Kakeibo dikenal dengan pendekatan sederhana tentang keuangan. Selama 116 tahun terakhir, kakeibo telah efektif dalam membantu orang membuat keputusan keuangan yang lebih cerdas. Hanya perlu buku catatan dan pulpen.

Dalam metode Kakeibo, seperti pada teori pada umumnya, kamu butuh catatan pemasukan dan pendapatan yang bisa kamu tulis di buku catatan. Nah, catatan tersebut bisa berupa catatan harian, mingguan, bulanan, hingga tahunan.

Namun bedanya, kakeibo tidak perlu menggunakan perangkat lunak seperti aplikasi tertentu ataupun lembar Excel. Mirip dengan jurnal bullet, buku besar ini menekankan pentingnya menulis secara fisik sebagai cara meditatif untuk memproses dan mengamati kebiasaan belanja kamu.

“Penelitian telah membuktikan berulang-ulang banyak manfaat menulis dengan tangan, yaitu mendorong Anda lebih sadar sambil mengakui pemicu di balik kebiasaan buruk Anda,” kata Sarah Harvey, penulis dan peneliti kakeibo dikutip CNBC, Senin (20/1/2020).

kakeibo mengharuskan Anda bertanya pada diri sendiri sebelum membeli barang secara impulsif. Berikut ini pertanyaannya:

  • Bisakah saya hidup tanpa barang tersebut?
  • Berdasarkan situasi keuangan saya, dapatkah saya membelinya?
  • Apakah saya benar-benar akan menggunakannya?
  • Di mana saya lihat barang itu pertama kali? (di majalah atau saat berkeliling toko suvenir saat bosan?)
  • Bagaimana keadaan emosi saya secara umum hari ini? (Tenang? Tertekan? Merasa buruk?)
  • Bagaimana perasaan saya jika membelinya? (Senang? Biasa saja? Dan berapa lama perasaan ini akan bertahan?)

Dengan metode bertanya pada diri sendiri, kakeibo lebih efektif dalam membantu manajemen keuangan kamu, saat metode lain tidak berhasil. Sebab, metode tersebut memaksa kamu untuk berpikir dan memotivasi kamu sebelum membeli satu barang. Dengan kata lain, akhirnya kamu bisa menaklukkan ketakutan tentang keuangan, dengan mengerti antara kebutuhan dan keinginan.

“Sebagai hasilnya, saya menjadi lebih baik dalam membuat keputusan yang lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih logis saat menghabiskan uang untuk suatu barang,” ucap Harvey.

Contoh yang pernah dikutip oleh Evening Standard adalah sebagai berikut:

  • Tiap awal bulan mulailah dengan membikin catatan tertulis berisi rincian semua pengeluaran, termasuk pengeluaran tetap serta berapa yang hendak ditabung.
  • Lalu, mulailah dengan membagi pengeluaran menjadi empat kolom dan kategori.
  • Pertama, kolom survival atau kebutuhan pokok yang meliputi makanan, transportasi, dan obat-obatan.
  • Kedua, optional atau biaya sekunder meliputi kudapan, makan di luar atau restoran, belanja, atau rokok.
  • Ketiga, Culture atau tambahan wawasan meliputi buku, film, majalah.
  • Terakhir, Extra alias pengeluaran tambahan semisal kado untuk pernikahan atau ulang tahun, biaya perbaikan rumah, atau servis.

Setelah membuat empat rincian tersebut, kemudian buatlah empat pertanyaan.

  • Pertama, berapa banyak uang yang saya miliki?
  • Berapa banyak uang yang ingin saya simpan?
  • Berapa sebenarnya yang saya belanjakan?
  • Bagaimana agar saya bisa mengawasi jumlah pengeluaran ini?

Dari sini, kamu bisa tahu ke mana uang paling banyak dikeluarkan. Tiap akhir bulan, kamu akan menjawab lagi serangkaian pertanyaan reflektif, semisal apakah kamu mencapai target menabung? Apa cara yang kamu temukan untuk menghemat uang? Di bagian mana kamu menghabiskan terlalu banyak uang? Dan apa yang akan kamu ubah bulan depan?

Penting untuk dicatat, kakeibo tidak dirancang untuk menghilangkan semua kegembiraan dari hidup kamu. Jika kamu merasa murung terhadap perubahan finansial yang kamu lakukan, cobalah sesuaikan dengan diri kamu.

 Misalnya, alih-alih mengharuskan kamu untuk melakukan sesuatu secara drastis, cobalah untuk menghilangkan kebiasaan buruk secara bertahap. Sebab, tujuannya memang menghilangkan kebiasaan buruk di kemudian hari.