Koi to uso

DOMIGADO Jepang tengah menghadapi permasalahan angka kelahiran yang cukup serius. Bahkan permasalahan jumlah angka kelahiran di Jepang dapat menuntun Jepang di ambang kepunahan di masa depan. Pemerintah mengeluarkan solusi terbaru memanfaatkan teknologi artificial intelegent atau AI.

Permasalahan jumlah angka kelahiran di Jepang memang  semakin mengkhawatirkan. Bahkan telah diprediksi pada tahun 2050 Jepang akan mengalami defisit jumlah penduduk di angka usia produktif. Hal ini akan berbanding terbalik dengan angka usia lansia yang mengalami peningkatan yang cukup signifikan di Jepang. 

Pemerintahan Jepang telah memberikan perhatian khusus untuk menangani permasalahn ini dan mencari solusi untuk menaikan angka kelahiran yang kian mengkhawatirkan.

Dilansir dari Yomiuri, ada langkah terbaru dari pemerintahan Jepang untuk mengatasi hal ini. Pemerintah Jepang kabarnya akan mengupayakan pengadaan teknologi AI dalam sebuah aplikasi penjodohan.

Proyek ini ditaksir akan menelan biaya sampai 2 milyar yen untuk. pengadaan teknologi. Angka itu setara dengan  300 miliar dalam mata uang rupiah.

Sistem AI ini rencananya  akan diterapkan pada awal musim semi tahun depan. Sistem ini akan mengambil jawaban kuisioner dari usernya mengenai hobi dan beberapa nilai – nilai kepribadian . Setelah kuisioner tersebut telah terisi, akan menghasilkan nilai persentase kecocokan dengan user lain dan diharapkan akan berujung kepada pernikahan.

Sebenarnya program serupa telah pernah dijalankan di beberapa prefektur di Jepang. Beberapa program yang telah dilakukan oleh beberapa pemerintah daerah, sebanyak 25 dari 47 prefektur telah memiliki program serupa untuk para penduduknya yang lajang.

Namun dari program yang telah berjalan tersebut tidak memperoleh hasil yang diinginkan. Hal tersebut menjadikan program yang telah berlangsung dikategorikan sebagai program gagal.

Namun kegagalan tersebut dikarenakan masih ada beberapa aspek yang tidak masuk sebagai indikator kecocokan pasangan yang diinginkan.

Beberapa aspek seperti angka penghasilan, pendidikan, rentang usia dan berbagai hal lain yang mencakup ketertarikan hobi, kegiatan dan lain sebagainya belum dimasukan pada program sebelumnya.

Penambahan aspek dan peningkatan teknologi dalam program kali ini diharapkan dapat memberikan hasil yang diharapkan. Dan menghasilkan semakin banyak pasangan yang akan berakhir ke jenjang pernikahan. Meskipun program ini terlihat sangat bagus namun tetap tidak luput dari respon negatif di parlemen.

Penerapan teknologi AI ini akan meningkatkan belanja pemerintahan pusat. Yang menjadikannya lebih mahal dibandingkan dengan progam serupa yang diadakan oleh pemerintah daerah di 25 prefektur di Jepang.

Sebagai contoh program yang telah berlangsung adalah prefektur Saitama yang telah memperkenalkan CoupleMatch pada tahun 2018. Biaya anggaran belanja pemerintah daerah memakan biaya sebesar 15 juta yen, atau sekitar 2 miliar rupiah. Pada tahun 2019, hanya 21 pasangan yang menikah melalui program tersebut.

Beberapa cara lain terus diupayakan oleh pemerintah Jepang dalam menaikan angka kelahiran. Usulan seperti memudahkan permanent residence, insentif kelahiran dan pernikahan dan berbagai program lain akan terus dievaluasi oleh pemerintah Jepang untuk terhindar dari kepunahan di masa depan.

Jangan lupa kalian juga bisa mengikuti keseruan berbagai judul serial anime terbaru dan terbaik di Domigado. Hanya dengan satu kali daftar, kalian bisa streaming melalui Domigado dengan akses melalui link di bawah ini.