Hampir sepertiga dari rumah sakit negara tidak lagi berfungsi, kata pemimpin militer Min Aung Hlaing minggu ini. Media pemerintah melaporkan pada hari Selasa (23/2), Min Aung Hlaing mencela tingkat profesional medis yang dianggap gagal memenuhi tugas mereka. Dia juga mengisyaratkan dokter dan guru yang bekerja akan segera menerima hadiah uang tunai.

Militer Myanmar memblokade jalan menuju gedung parlemen (foto: AFP)
Militer Myanmar memblokade jalan menuju gedung parlemen (foto: AFP)

Mengutip AFP, seorang dokter mengatakan kekurangan staf, itu artinya rumah sakit harus menolak pasien baru. Sementara, “Tim pelindung” medis dibentuk untuk memberikan perawatan darurat kepada para pengunjuk rasa di bawah tembakan peluru karet dan peluru tajam. Berdasarkan laporan media lokal, seluruh pekerja, sopir dan administrator dipecat karena ketidakhadiran mereka.

“Militer tidak mengantisipasi bahwa sebagian besar pamong praja akan keluar dan meninggalkan mereka tanpa aparat negara. Dampak gerakan tidak selalu bergantung pada semua birokrasi yang berpartisipasi, tetapi pada bagian-bagian penting yang melumpuhkan kemampuan militer untuk mengumpulkan pendapatan dan mendistribusikannya ke seluruh mesin negara,” kata seorang analis yang tidak mau disebutkan namanya.

Tingkat ketidakmampuan ini bisa menjadi lebih jelas, ketika Dewan Administrasi Negara Myanmar, sebagaimana para pemimpin kudeta menjuluki diri mereka sendiri, menghadapi tagihan untuk semua sektor publik. Bank Ekonomi Myanmar (MEB), yang mendistribusikan gaji dan pensiun pemerintah, telah tertatih-tatih karena pemogokan itu. Namun media pemerintah membantah hal itu, menyebutnya “rumor tak berdasar” dan mengatakan kompensasi tidak akan diberikan.

Demonstrasi besar di Myanmar