Sah! PBBhapus ganja dari daftar narkotika. (foto: istimewa)
Sah! PBBhapus ganja dari daftar narkotika. (foto: istimewa)

DOMIGADO – Internasional. Komisi Narkotika Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) secara resimi telah menghapus ganja dari daftar narkotika atau obat-obatan terlarang. Kesepakatan tersebut dicapai dari pemungutan suara dengan 53 negara anggota telah mempertimbangkan rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang reklasifikasi ganja dan turunannya. Keputusan ini untuk mengantisipasi sekaligus membuka jalan bagi perluasan penelitian ganja dan penggunaan medis.

Ganja telah disetujui untuk keperluan medis dan tidak lagi dianggap sebagai zat berbahaya. Beberapa negara yang menyetujui ganja dihapus dari daftar narkotika yaitu Amerika Serikat, Jerman hingga Inggris. Sementara itu, beberapa negara yang menolak yaitu Pakistan, Rusia hingga Tiongkok. Diketahui, hingga saat ini, sudah ada lebih dari 50 negara yang memanfaatkan ganja sebagai obat.

Para ahli mengatakan bahwa pemungutan suara tidak akan berdampak langsung pada pelonggaran kontrol internasional karena pemerintah masih memiliki yurisdiksi tentang bagaimana mengklasifikasikannya. Penggunaannya pun harus tunduk pada aturan yang berlaku. Namun, banyak negara melihat konvensi global sebagai pedoman pengkategorian.

(foto: Reuters)
(foto: Reuters)

Dengan dihapuskannya ganja dari daftar narkotika, penelitian dan pengembangan akan lebih mudah dilakukan. Melansir laman harianjogja (3/12), pengakuan PBB adalah kemenangan simbolis bagi para pendukung perubahan kebijakan narkoba yang mengatakan bahwa hukum internasional sudah ketinggalan zaman.

“Ini adalah kemenangan besar dan bersejarah bagi kami, kami tidak bisa berharap lebih,” kata Kenzi Riboulet-Zemouli, seorang peneliti independen untuk kebijakan narkoba.

Dia mengatakan ganja telah digunakan untuk pengobatan dan keputusan PBB menjadi pintu untuk mendukung tanaman tersebut digunakan dalam medis. Perubahan tersebut kemungkinan besar akan mendukung penelitian medis dan upaya legalisasi di seluruh dunia.

Dirk Heitepriem, Wakil Presiden di Canopy Growth, mengungkapkan pemungutan suara di PPB merupakan langkah maju yang besar karena mengakui dampak positif ganja pada pasien.

(foto: istimewa)
(foto: istimewa)

“Kami berharap ini akan memberdayakan lebih banyak negara untuk membuat kerangka kerja yang memungkinkan pasien yang membutuhkan untuk mendapatkan akses ke pengobatan,” ungkap Heitepriem.

Ganja untuk penggunaan medis telah banyak digunakan dalam beberapa tahun terakhir dan produk yang mengandung turunan seperti cannabidiol atau CBD, senyawa nonintoxicating, telah membanjiri industri kesehatan. Sebelumnya, pada Januari 2019, WHO mengeluarkan enam rekomendasi terkait pendaftaran tanaman ini dalam perjanjian pengendalian obat PBB.

Di antara sejumlah poin yang disampaikan WHO, salah satunya adalah bahwa senyawa cannabidiol—senyawa yang tidak memabukkan—tidak tunduk pada hukum internasional. Juga, CBD dianggap telah banyak berperan penting dalam terapi kesehatan selama beberapa tahun terakhir serta mendorong industri senilai miliaran dolar.