Massa pro-demokrasi Thailand menggelar aksi unjuk rasa pakai salam tiga jari ala The Hunger Game (foto: AFP/Jack Taylor)
Massa pro-demokrasi Thailand menggelar aksi unjuk rasa pakai salam tiga jari ala The Hunger Game (foto: AFP/Jack Taylor)

DOMIGADO – Foto demonstran Thailand pakai Salam tiga jari dari novel dan film The Hunger Games yang digunakan saat iring-iringan mobil kerajaan pekan ini viral di media sosial. Salam tiga jari menjadi simbol utama perlawanan demonstran Thailand terhadap monarki dalam beberapa tahun terakhir. Salam tiga jari itu adalah cara untuk menandakan dukungan demokrasi, sekaligus menjadi bentuk kemarahan demonstran terhadap pembentukan militer royalis Thailand pada ketidaksetaraan yang mengakar dan makin memburuk.

Melansir dari laman Kompascom, jum’at (16/10), Salam tiga jari ala Hunger Games itu pertama kali muncul pada 2014 saat pembangkangan terhadap rezim militer yang merebut kekuasaan dalam kudeta, menangguhkan demokrasi, dan membatasi kebebasan berekspresi. Prayuth Chan-O-cha panglima militer yang memimpin kudeta itu dan sekarang menjadi Perdana Menteri Thailand, menjadi salah satu sasaran utama demonstran.

Dalam novel dan film Hunger Games, penduduk masa depan distopia Amerika Utara – yang dipaksa bertanding dalam pertandingan berujung kematian dan disiarkan televisi – awalnya menggunakan salam itu untuk menunjukkan terima kasih, kekaguman, dan selamat tinggal kepada orang-orang yang mereka cintai. Tapi makna salam tiga jari berubah menjadi simbol pemberontakan melawan tuan mereka yang kaya, totaliter, tinggal di ibu kota mewah, dan dilindungi militer.

(foto: Reuters)
(foto: Reuters)

Makna serupa juga muncul di demo Thailand, di mana terdapat jurang kesenjangan kekayaan yang menganga, dan para jenderal melancarkan kudeta berulang kali demi melindungi kepentingan mereka. Tak lama setelah kudeta 2014, orang-orang pro-demokrasi Thailand menggunakan sejumlah taktik inovatif guna menentang larangan pertemuan publik, salah satunya adalah salam tiga jari.

Pada tahun-tahun berikutnya salam itu sering digunakan, didorong oleh rasa kebersamaan massa dan mendapat perhatian besar saat para aktivis terkemuka menuju pengadilan atau dimasukkan ke mobil polisi. Jenny yang bergabung dalam aksi unjuk rasa tahun ini ketika ekonomi Thailand terpukul oleh pandemi virus corona mengatakan, salam itu mencakup gerakan demokrasi dan kemarahan publik.

“Di Thailand hanya ada satu kelompok yang memiliki kekuatan besar… dan ada jurang pemisah lebar antara kaya dan miskin,” katanya kepada AFP dengan meminta hanya disebutkan nama depannya saja.

Para demonstran antipemerintah di Thailand, berunjuk rasa di Bangkok (foto: AFP/Mladen Antonov)
Para demonstran antipemerintah di Thailand, berunjuk rasa di Bangkok (foto: AFP/Mladen Antonov)

Namun dia mengaku tidak pernah mengira salam itu akan digunakan melawan monarki, institusi yang dilindungi ketat oleh hukum lese majeste.

“Dulu ketika anggota kerajaan lewat kami bahkan tidak boleh lewat di sekitar daerah itu. Kami harus berhenti dan berlutut. Kami banyak berubah… Kami melanggar tabu.” ungkapnya.

Salam tiga jari Hunger Games itu juga digunakan di luar negeri. Selama setahun terakhir para aktivis di Thailand, Hong Kong, dan Taiwan yang mengkritisi otoriter China membentuk gerakan online bernama Milk Tea Alliance. Nama itu diambil karena kecintaan mereka terhadap minuman tersebut. Meme tentang salam tiga jari juga banyak disebar secara online.

Hastag #whatshappeninginthailand juga menggema di Twitter. Lebih dari 1 juta cuitan yang telah menggunakan hastag ini disertai dengan unggahan gambar demonstran yang sedang berhadapan dengan militer Thailand. Berikut beberapa diantaranya.

Dekret Darurat di Thailand

Demonstran pro-demokrasi tidur di depan Gedung Pemerintah selama demonstrasi di Bangkok, Thailand, Kamis (15/10/2020) (AP Photo/Rapeephat Sitichailapa)
Demonstran pro-demokrasi tidur di depan Gedung Pemerintah selama demonstrasi di Bangkok, Thailand, Kamis (15/10/2020) (AP Photo/Rapeephat Sitichailapa)

Melansir laman Liputan6, demo di Thailand memicu status darurat di Bangkok. Melihat situasi tersebut, Kedutaan Besar Indonesia KBRI di sana akhirnya pada Kamis sore 15 Oktober 2020 mengeluarkan peringatan kepada seluruh warga negara Indonesia (WNI) di Negara Gajah Putih untuk hati-hati dan waspada, serta menghindari lokasi yang menjadi aksi demonstrasi dan berkumpulnya massa.

Pemerintah Thailand hari Kamis 15 Oktober 2020 mengumumkan dekret darurat yang sangat ketat untuk ibu kota Bangkok, sehari setelah demonstrasi mahasiswa berskala besar, yang bahkan diwarnai dengan cemooh terhadap iring-iringan rombongan kerajaan; hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya mengingat begitu kuatnya aturan hukum yang melindungi kerajaan dan keluarga.

Setelah pengumuman dekret itu polisi anti huru-hara bergerak membubarkan para demonstran yang sehari setelah demonstrasi hari Rabu 14 Oktober berkumpul di luar kantor Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha untuk menyampaikan tuntutan mereka. Di antara tuntutan itu adalah seruan agar mantan jendral itu segera mengundurkan diri, perubahan konstitusi dan reformasi kerajaan.

Tujuh pemimpin demonstrasi ditangkap, di mana salah seorang diantaranya kemudian menulis di akun Facebooknya bahwa aparat tidak memperkenankannya didampingi pengacara dan ia dipaksa naik ke helikopter untuk dibawa ke bagian utara. Associated Press melaporkan polisi telah menangkap sedikitnya 22 orang.