kapur barus komoditas paling banyak dicari, sumber pinterest
kapur barus komoditas paling banyak dicari, sumber pinterest

DOMIGADO – Sejak ribuan tahun lalu, getah yang mengkristal dari pohon kapur itu sudah menjadi komoditas yang paling banyak dicari. Hal ini tercatat dalam buku tertua ilmu kedokteran yang ditulis dalam bahasa Persia pada abad ke-19 M. Salah satu khasiat kapur barus adalah untuk menghentikan mimisan dengan dicampur air kurma hijau dan kemangi. Dalam kadar tertentu, kapur barus juga dapat diminum untuk mengobati gangguan asam lambung, usus halus, dan usus besar.

Tapi tahukah kamu jika kapur barus punya peranan penting dalam tradisi ritual Mesir kuno? Dilansir dari laman gnfi.com, jika Tana Toraja, Indonesia punya, Ritual Ma’nene, maka Mesir punya ritual pengawetan Mumi yang harus dipelihara. Ritual ini merupakan warisan leluhur Mesir Kuno yang harus dipertahankan. Sekilas, dua ritual tersebut sama-sama memperlakukan seseorang yang sudah meninggal, lalu diawetkan.

Hanya saja dalam warisan Mesir tidak semua orang meninggal akan diawetkan, melainkan mereka memilih orang-orang tertentu saja. Mumi Fir’aun menjadi salah satu warisan Mesir kuno yang paling terkenal. Orang Mesir percaya bahwa badan adalah tempat seseorang yang sangat penting dalam masa setelah hidup. Sehingga tidak heran beberapa mayat yang diawetkan identik dengan tokoh atau jasad raja-raja Mesir terdahulu.

FYI nih guys, cara pengawetan yang sering dilakukan di Mesir adalah proses pembalseman, yang dimana pada masa tertentu mereka juga menggunakan kapur barus sebagai pengawet alami mayat. Dan setelah ditelusuri, ternyata bahan kapur yang digunakan pada mumi Fir’aun berasal dari Indonesia. Bahkan beberapa penelitian menunjukkan hanya Indonesia yang memiliki kapur barus alami yang pada masa terdahulu tersebar di seluruh dunia.

Bagaimana Perjalanan Kapur Barus Hingga Ke Seluruh Dunia?

pohon kapur barus atau Cinnamomum camphora adalah pohon hijau abadi besar yang tumbuh setinggi 20–30 m, sumber pinterest
pohon kapur barus atau Cinnamomum camphora adalah pohon hijau abadi besar yang tumbuh setinggi 20–30 m, sumber pinterest

Menurut J. Fachruddin Daulay, salah satu staf pengajar Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara, dalam artikel penelitiannya yang berjudul Bandar Barus Dalam Catatan Sejarah, daerah Barus di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pernah termahsyur di seluruh dunia. Mengapa? Karena daerah ini merupakan bandar dagang pengekspor hasil kapur barus terbesar yang banyak diminati pasar dunia.

Dan benar, namanya sendiri memang diambil dari daerah tempat kapur ini berasal, yaitu wilayah Barus.

Kapur barus berasal dari cairan yang dikeringkan hasil ekstraksi pohon kamper dengan nama latin Cinnamomum camphora. Itulah sebabnya bahan alami berwarna putih ini juga kerap dikenal sebagai kamper. Masyarakat Sumatera sendiri juga mengenalnya dengan sebutan haburuan atau kaberun. Hanya saja penamaan kapur barus lebih mudah dikenal oleh banyak orang sampai era modern seperti sekarang.

Letak wilayah Barus sejak awal tahun Masehi, dijelaskan Fachruddin, memang menjadi tempat berkumpulnya saudagar-saudagar dari luar Nusantara.

Dalam buku berjudul Geographike Hyphegesis (160 Masehi) seperti yang dikutip kumparanmenyebutkan bahwa sebenarnya bukan bangsa Eropa yang pertama kali datang ke Barus. Melainkan pedagang-pedagang China, India, dan Arab sudah memiliki hubungan dagang dengan pelabuhan Barus.

Buku kitab ilmu bumi karangan Ptolomeus tersebut juga menyebutkan bahwa hubungan dagang yang terjalin atas tiga negara tersebut, menjadi keterangan bahwa Mesir seolah memperpanjang hubungan dagang komoditas berharga ini.

Sehingga hampir bisa dipastikan bahwa kapur barus ini punya kesempatan sampai di Mesir dan digunakan untuk mengawetkan mumi Fir’aun dan raja-raja Mesir. Tidak heran kalau mereka harus membayar mahal untuk mendapatkan komoditas ini. Mengingat sulit dan jauhnya lokasi kapur barus terbaik yang harus mengarungi perjalanan dari Barus, China, Arab, sampai ke Mesir.

Lagipula, Ptolomeus juga menuliskan, seperti yang dijelaskan oleh Fachruddin bahwa, komoditas ini hanya dapat ditemui di wilayah Barus. Itulah sebabnya nilai komoditas ini sangat tinggi.

Kapur Barus Komoditas Mahal Yang Langka

kapur barus murni semakin langka keberadaannya, sumber pinterest
kapur barus murni semakin langka keberadaannya, sumber pinterest

Komoditas berharga ini sudah mulai langka bahkan diambang kepunahan. Hal ini dikarenakan penebangan yang tidak terkendali sehingga pohon-pohon yang mengandung kristal kapur mati. Padahal tidak semua pohon memiliki kadar kristal yang sama.

Mengutip detikXdi Singapura, satu botol kecil berisi 6 milimeter cairan aroma terapi dengan kandungan kamper alami bisa dijual sampai Rp500 ribu. Di pasar internasional, bentuk kristal dengan konsentrasi 98 persen bisa dijual sampai Rp100 juta.

China mengakui bahwa kapur asli Sumatera memiliki kualitas yang lebih baik dengan aroma yang lebih kuat, meskipun mereka punya jenis pohon kapur sendiri. Mengetahui kualitas tersebut, tercatat China sudah mengimpor kamper dari Sumatera sedikitnya 400 kilogram. Catatan ini hanya untuk transaksi dari 1839 sampai 1844.

Produk kapur barus dan kamper yang sudah ramai beredar sekarang ini bukanlah alami, melainkan produk sintesis yang diolah secara modern dan hanya mengandung bahan-bahan kimia dengan mengadopsi sifat alami dari kapur barus.

Kristal Putih Yang Diakui Marco Polo

kapur barus komoditas kristal putih yang harganya bisa setara dengan menjual sebuah logam mulia, sumber pinterest
kapur barus komoditas kristal putih yang harganya bisa setara dengan menjual sebuah logam mulia, sumber pinterest

Marco Polo pertama kali mengikuti ayah dan pamannya menjelajah ke seluruh dunia saat usianya menginjak 17 tahun. Setelah perjalanan panjang, sekitar tahun 1271, ia menginjakkan kaki pertama kali ke China dan tinggal di sana selama kurang lebih 20 tahun. Baru pada tahun 1292, Marco Polo dewasa beserta ayah dan pamannya menumpang armada kapal Mongol untuk menuju ke wilayah Levant yang merupakan wilayah Mediterania Timur atau wilayah besar di Asia Barat, kini wilayah itu meliputi Lebanon, Suriah, Yordania, Israel, dan Palestina.

Dalam perjalanannya itulah Marco Polo sempat singgah di bagian utara Sumatera. Tidak lama ia singgah, hanya lima bulan Marco di wilayah kekuasan Kerajaan Samudera Pasai itu. Selama persinggahannya, Marco sempat menyusuri di beberapa daerah, salah satunya Barus.

Pada saat itulah ia mengungkapkan hal-hal luar biasa yang ia temui di Sumatera, yang kala itu ia sebut dengan “Jawa Kecil”. Dimulai dari ritual kanibalisme, orang kerdil, sampai kapur yang ia temukan di daerah Barus.

Marco Polo akhirnya menyadari betapa beruntungnya dia mengetahui salah salah satu komoditas berharga di dunia. Ia tahu bahwa kapur itu sangat terkenal dan merupakan yang terbaik di dunia. Dia menaksir bahwa komoditas kristal putih itu harganya bisa setara dengan menjual sebuah logam mulia yang mahal dan berharga.