Pandemi Virus corona (Covid-19) yang semakin meluas, kini tercatat sudah menginfeksi 1.514.866 orang di dunia berdasarkan data statistik John Hopkins University per hari Kamis, 9 april 2020. Jutaan pasien corona itu tersebar di 209 negara dan wilayah di dunia. Sementara itu, sebanyak 88.444 pasien di dunia dinyatakan meninggal dan sebanyak 330.266 pasien corona di dunia juga telah dinyatakan sembuh dari virus ini.

Amerika Serikat menjadi negara dengan kasus corona tertinggi, hingga kamis (09/04) telah mencapai 432,132 kasus dengan 14,817 jiwa meninggal dunia, dan 23,906 jiwa dinyatakan sembuh. Presiden Donald Trump telah menuai kritikan atas penanganan krisis pandemi ini. Namun Trump malah mengkritik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menurutnya bertindak lamban.

Trump mempertanyakan mengapa WHO telah memberikan rekomendasi yang salah di awal-awal wabah, dengan meminta negara-negara untuk tidak menutup perbatasannya. Trump sendiri banyak dikritik karena semula meremehkan virus mematikan ini, yang disamakannya dengan flu biasa. Namun kemudian Trump mengakui keganasan virus Corona dan menyebutnya sebagai darurat nasional.

Menanggapi pernyataan Trump, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanmos Ghebreyesus meminta Trump untuk tidak mempolitisasi virus corona dengan mengeluarkan ancaman.

“Tolong jangan mempolitisasi virus ini. Ini sama saja dengan memanfaatkan perbedaan yang Anda alami di tingkat nasional. Jika Anda ingin dieksploitasi dan jika ingin melihat lebih banyak korban meninggal berjatuhan,” ujar Gheyebreyesus dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss, rabu (8/4) seperti mengutip CNN.

“Jika Anda tidak ingin lebih banyak kantung mayat, maka Anda sebaiknya menahan diri untuk mempolitisasinya. Pesan saya, tolong karantina politisasi Covid. Persatuan negara Anda sangat penting untuk mengalahkan virus berbahaya ini,” ujarnya menambahkan.

WHO mengimbau persatuan global untuk memerangi penyebaran pandemi virus corona. Di awal Januari lalu, WHO sempat memperingatkan seluruh negara anggota akan potensi penyebaran virus dan merilis panduan untuk mendeteksi potensi infeksi corona.

Namun belakangan WHO menjadi pusat perhatian setelah penyebaran virus corona di luar China terjadi kian massif. AS kemudian menyalahkan organisasi itu setelah kasus Covid-19 global melonjak menjadi lebih dari satu juta.

“Kami mengatakan kami telah melakukan semua yang kami bisa, tetapi kami akan terus melakukan segalanya, siang dan malam, seperti yang telah kami lakukan untuk menyelamatkan hidup. Kami tidak ingin membuang waktu,” ungkap Gheyebreyesus.

Negara dengan kasus corona terbesar kedua adalah Spanyol. Total kasus sampai saat ini, Kamis (09/04) mencapai 148,220 kasus, dengan 14,792 jiwa meninggal dunia, dan 48,021dinyatakan sembuh.

Luis Planas, Menteri Agrikultur Spanyol, dikutip EFE pada Selasa (7/4) mengungkapkan kebutuhan negara untuk 75.000 hingga 80.000 pekerja untuk mengangkut dan memproses buah-buahan dan sayuran. Hal ini terjadi karena konsumsi makanan, terutama daging dan sayuran segar, meningkat hingga 17,6 persen sejak karantina nasional diberlakukan di negara tersebut.

Sebagai solusi, Luis Planas menawarkan kerja distribusi pertanian kepada pengangguran, orang-orang yang menerima subsidi pertanian, imigran dengan izin untuk bekerja, dan imigran muda antara 18-21 tanpa dokumen sejak paruh kedua Maret hingga akhir September. Di sisi lain, terjadi peningkatan signifikan pengagguran di Spanyol karena COVID-19 terutama di bidang layanan dan jasa.

Sementara itu, Prancis memperpanjang kebijakan penutupan wilayah atau lockdown hingga setelah 15 April 2020 untuk memperlambat penyebaran Covid-19. Perpanjangan kebijakan ini dilakukan di tengah meningkatnya kematian akibat virus corona di Eropa.

Seorang pejabat kepresidenan kepada AFP mengatakan keputusan perpanjangan lockdown dilakukan lantaran Prancis menjadi salah satu negara yang sejauh ini telah mencatat lebih dari 10 ribu kematian karena Covid-19. Presiden Emmanuel Macron rencananya pada Senin (13/4) akan menyampaikan pidato terkait kebijakan lanjutan pemerintah dalam memerangi penyebaran virus corona.

Direktur Jenderal Kesehatan Prancis Jerome Salomon mengatakan saat ini ada 7.148 pasien Covid-19 yang mendapat perawatan intensif. Angka tersebut bertambah 17 orang dari hari sebelumnya, mengalami penambahan terendah dalam beberapa pekan terakhir. Salomon mengatakan pelambatan tersebut terjadi setelah pemerintah Prancis memutuskan lockdown untuk menyeimbangkan kurva penambahan pasien corona dan jumlah pasien yang meninggal.

Di Indonesia sendiri, sampai dengan kamis siang (09/04), jumlah kasus corona mencapai 2,956 kasus, dengan 240 jiwa meninggal dunia, dan 222 jiwa telah dinyatakan sembuh.

Sedangkan kasus warga negara Indonesia (WNI) positif virus Corona (COVID-19) di luar negeri bertambah menjadi 312 orang. Sebanyak 42 orang di antaranya sembuh dan 9 orang meninggal dunia.

Informasi mengenai perkembangan kasus WNI positif ini disampaikan lewat akun Twitter resmi Kementerian Luar Negeri, @Kemlu_RI, pada Kamis (9/4/2020). Data itu dihimpun Kemlu per pukul 08.00 WIB pagi.

“Confirmed cases COVID-19 WNI di luar negeri total 312 orang,” demikian keterangan di peta sebaran COVID-19 yang diunggah @Kemlu_RI.

Sebanyak 312 kasus itu tersebar di berbagai negara. Data terbaru menyebutkan ada penambahan 5 kasus WNI sembuh yang tersebar di Amerika Serikat, Malaysia, dan Singapura. Kemudian ada penambahan 1 kasus WNI yang meninggal dunia di Amerika Serikat.