Detik-detik proklamasi di istana
Detik-detik proklamasi di istana. (foto: (Foto: BPMI)

DOMIGADO – Hari kemerdekaan Indonesia telah tiba. Seperti yang kita tahu, tanggal 17 Agustus selalu istimewa bagi kita warga Indonesia. Mengingat pada 75 tahun yang lalu, tepat di tanggal 17 bulan Agustus, Indonesia menyatakan kemerdekaannya dari penjajahan bangsa asing. Untuk mengenang hari yang istimewa ini setiap tahunnya, hari kemerdekaan Indonesia dirayakan dengan sangat meriah di berbagai daerah di Indonesia sendiri.

Namun, ada yang berbeda dengan perayaan Kemerdekaan Indonesia di tahun ini. Pandemi Covid-19 yang melanda, rangkaian lomba permainan khas peringatan kemerdekaan, seperti balap karung dan panjat pinang sebagian besar ditiadakan tahun ini. Kalaupun lomba diadakan, protokol kesehatan diterapkan. Dan di tahun ini juga, Upacara HUT Kemerdekaan Indonesia diadakan secara sangat terbatas di Istana Kepresidenan.

Berdasarkan surat edaran yang diteken Menteri Sekretaris Negara, Pratikno, hanya enam pejabat yang menghadiri upacara secara fisik, termasuk Presiden Jokowi dan Wapres Ma’ruf Amin. Lainnya adalah Ketua MPR Bambang Soesatyo (pembaca teks proklamasi); Menteri Agama Fachrul Razi (pembaca doa); Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto; dan Kapolri Jenderal Idham Azis. Upacara ini tidak dihadiri masyarakat secara fisik, tapi melalui daring.

Untuk mengenang gegap gempita perayaan HUT kemerdekaan Indonesia yang pernah dilakukan beberapa tahun yang lalu, berikut adalah tradisi unik merayakan kemerdekaan Indonesia dari berbagai daerah yang berhasil redaksi Domigado.com rangkum dari berbagai sumber.

1. Kibarkan Bendera Merah Putih di Dasar Laut

Kibarkan Bendera Merah Putih di Dasar Laut
Kibarkan Bendera Merah Putih di Dasar Laut (foto: merdeka.com)

Ratusan penyelam menyelenggarakan upacara pengibaran bendera merah putih, dalam rangka memperingati 74 tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dengan cara unik dan berbeda. Mereka mengibarkan bendera merah putih di dasar laut Perairan Sangiang, Kabupaten Serang, Sabtu (17/8). Tradisi unik yang diinisiasi oleh TNI AL Banten dan Persatuan Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Cilegon melibatkan berbagai elemen baik Grup 1 Kopassus Serang, Ditpolairuda Polda Banten, Basarnas Banten, Polres Cilegon, Kodim 0623 Cilegon, Komunitas Diver Banten dan penyelam snorkel. 

“Kita pererat persatuan dan kesatuan dengan mengibarkan bendera laut, membentangkan bendera di bawah laut. Ini menunjukan semangat kita. Walaupun dengan kerja keras membentangkan dengan susah payah, kemungkinan yang tidak terjadi, tetapi ini bisa terjadi,” kata Komandan TNI AL (Danlanal) Banten, Letkol Laut (P) Golkariansyah.

Para penyelam berangkat dari Anyer sekitar pukul 08.00 WIB menggunakan sejumlah kapal patroli baik Patkamla Badak, Patkamla Panaitan, KAL Tamposo, Kapal Patroli Ditpolairud Murai, Kapal Drupada, RIB Basarnas Banten dan kapal nelayan setempat. Saat tiba di lokasi, Satu persatu penyelam langsung terjun ke dasar laut sedalam 8 meter itu. Mereka berbaris di dasar laut dengan membentuk formasi tepat dihadapan tiang bendera. Upacara ini dipimpin oleh Komandan TNI AL (Danlanal) Banten, Letkol Laut (P) Golkariansyah. Tradisi unik ini sebenarnya sudah dilakukan dari beberapa tahun belakangan dan dilakukan juga di berbagai daerah di Indonesia.

2. Upacara Bendera di Gunung

Pembentangan bendera merah putih di Puncak Hargo Dumilah Gunung Lawu Karanganyar, Sabtu (17/8/2019) (foto: Tribun Jateng/Agus Iswadi)

Tradisi unik berikutnya adalah menggelar upacara di gunung. Hal ini telah menjadi tradisi bagi para pecinta alam. Mereka bergerak atas inisiatif pribadi mengibarkan bendera merah putih. Pemandangan yang indah, keasrian alam, dan dekat dengan masyarakat, apalagi saat bulan Agustus, suasana tersebut meningkatkan rasa nasionalisme di kalangan pendaki gunung. Lalu kemana tujuan mereka? Hampir semua gunung di Indonesia. Gunung-gunung di Jawa yang menjadi langganan para pendaki upacara di gunung, untuk mengibarkan upacara 17 Agustus antara lain Gunung Semeru, Gunung Merapi, Gunung Lawu, Gunung Prau Dieng, dan Gunung Papandayan.

Ketua Anak Gunung Lawu (AGL), Rusdianto menyampaikan, kegiatan upacara bendera diatas gunung dalam rangka upaya membangkitkan nasionalisme para pendaki di Gunung Lawu Karanganyar.

“Bagi yang tidak bisa mengikuti upacara bendera di kantornya, sekolahannya bisa mengikuti upacara di sini (Gunung Lawu). Jangan meninggalkan sesuatu, sampah atau apaun yang bisa mengotori gunung. Kita jaga masalah sampah, masalah api unggun. Supaya semua tidak terganggu,” katanya kepada Tribunjateng.com seusai upacara.

Ia berharap para pendaki selalu mengingat jasa para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan bangsa. Begitu juga Rusdianto menghimbau kepada para pendaki supaya tetap merawat dan menjaga alam di Gunung Lawu. Selain upacara pengibaran bendera, ada serangkaian acara dalam memperingati Hari Kemerdekaan, seperti sampah berhadiah.