Sejumlah BUMN akan dibubarkan (foto: Antara/Aprilio Akbar)
Sejumlah BUMN akan dibubarkan (foto: Antara/Aprilio Akbar)

DOMIGADO – Kementerian BUMN menyatakan, sebanyak 14 BUMN akan dilikuidasi atau dibubarkan melalui PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA). Meski begitu, hingga saat ini belum ada detil perusahaan BUMN mana saja yang dimaksud akan dibubarkan. Dilansir dari laman detikcom, berita ini disampaikan anggota Komisi VI Andre Rosiade. Berdasarkan informasi secara informal yang ia terima, ada beberapa BUMN yang rencananya akan dilikuidasi atau di bubarkan.

Namun, ia menekankan, masih dalam kajian Kementerian BUMN. BUMN yang dimaksud seperti PT Merpati Nusantara Airlines (Persero), PT PT Industri Gelas (Persero) atau Iglas, PT Kertas Kraft Aceh (Persero), dan PT Kertas Leces (Persero).

“Gua (saya) dapat informasi bahwasanya ada beberapa BUMN yang mau dilikuidasi, BUMN-BUMN itu sudah tidak jalan seperti Merpati, Iglas, pabrik kertas Leces atau Aceh, lupa gua. Intinya ini masih dikaji,” katanya kepada detikcom, Rabu (30/9/2020).

Dia mengatakan, BUMN itu rata-rata sudah setop operasi. Sementara, Andre bilang, di sejumlah kesempatan Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan BUMN diminta untuk tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Memang dalam berbagai rapat Pak Menteri sudah menyampaikan, Kementerian BUMN dan BUMN-BUMN di bawahnya diminta tidak melakukan PHK oleh presiden terutama dalam situasi COVID ini,” ujarnya.

Kembali, dari informasi yang ia terima BUMN yang dilikuidasi ialah yang telah berhenti operasi. Pihaknya bakal mendapat informasi resmi setelah kajian Kementerian BUMN rampung.

“Memang ada beberapa BUMN yang berhenti operasi itu yang kami dapatkan informasinya. Intinya semua masih dikaji dan tentu nanti kita dapatkan informasi resmi dari Kementerian BUMN setelah kajiannya selesai,” terangnya.

Anggota Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade (foto: tribunnews/Taufik Ismail)
Anggota Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade (foto: tribunnews/Taufik Ismail)

Andre menambahkan, dalam proses likuidasi ini proses kajian mendalam serta dalam pelaksanaannya butuh regulasi peraturan pemerintah.

“Ini kajian mendalam, lalu nanti butuh peraturan pemerintah. Lalu kebijakan resmi pemerintah melalui Presiden Jokowi dan Kementerian BUMN bahwa BUMN tidak boleh melakukan PHK,” ujarnya.

Sementara, Kepala Grup Komunikasi PT PPA Agus Widjaja saat dikonfirmasi mengatakan belum ada arahan dari pemegang saham. Sementara, untuk BUMN yang tengah di tangani atau menjadi ‘pasien’ perusahaan belum berubah dari posisi terakhir. Dalam catatan detikcom, ada sembilan pasien BUMN yang ditangani PPA.

Sembilan BUMN itu yakni PT Merpati Nusantara Airline (MNA), PT Survai Udara Penas, PT Industri Gelas, PT Kertas Kraft Aceh, PT Industri Sandang Nusantara, PT Kertas Leces, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL Indonesia, dan PT Industri Kapal Indonesia. Kertas Leces sendiri gagal diselamatkan karena telah dinyatakan pailit. Kemudian, Merpati tengah menunggu investor tapi hingga saat ini belum terdengar kabarnya.

Melansir laman tempo, sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan pihaknya telah melakukan pemetaan terhadap seluruh perusahaan pelat merah dan terdapat empat kelompok besar. Hal tersebut disampaikan oleh staf khusus Erick Thohir, Arya Sinulingga dalam sebuah diskusi virtual yang diunggah di platform YouTube, pada Senin lalu, 28 September 2020.

Arya menjelaskan, dari pemetaan yang telah dilakukan, BUMN nantinya akan digolongkan menjadi empat kelompok. “Dulu disebutkan BUMN tugasnya cari uang, tapi sosial juga. Nah kita sekarang sudah petakan jadi empat kelompok,” ujarnya, seperti dikutip dari tayangan tersebut, Rabu, 30 September 2020. Empat kelompok perusahaan pelat merah itu adalah: surplus creators, strategic value, welfare creators, dan dead-weight.

Menteri BUMN Erick Thohir (foto: jawapos/Dery Ridwansah)

Untuk BUMN yang masuk kelompok surplus creators, kata Arya, diproyeksikan untuk terus memaksimalkan nilai tambah. “Tugas cari duit, untung sebesar-besarnya,” kata Arya. Sejumlah BUMN yang masuk kategori ini adalah: BNI, Bank Mandiri, Semen Indonesia, MIND.ID, IPC, Krakatau Steel, LEN, PPA, Waskita Karya dan Jasa Marga.

Kelompok kedua, kata Arya, yakni strategic value. BUMN-BUMN yang masuk kelompok ini bertugas memberikan nilai strategis yang meningkatkan keekonomian dan menyediakan layanan publik. “Selain cari uang, ada tugas sosial seperti PSO,” ucapnya. Beberapa BUMN yang masuk kelompok ini adalah: BTN, Telkom, BRI, Pertamina, KAI, dan Biofarma.

Adapun kelompok ketiga adalah welfare creators yang bertugas memaksimalkan pelayanan publik. Sejumlah perusahaan yang masuk kategori ini adalah Pupuk Indonesia, Hutama Karya, PLN, Pos Indonesia, Damri, RNI, Peruri, dan Bulog.

Sementara yang terakhir, kelompok keempat disebut dead-weight yang dinilai tak lagi pulai nilai ekonomi. “Gak bisa diapa-apain lagi, Pilihannya dilebur, dibubarkan,” ucap Arya.

Dalam paparannya, Arya juga menjelaskan, bahwa dari total 108 BUMN saat ini, pemerintah telah mempersiapkan rencana lebih lanjut berdasarkan hasil analisis dan pemetaan terhadap tiap kondisi keuangan dan operasional perusahaan. Sedikitnya ada empat aksi korporasi yang akan dilakukan untuk merampingkan jumlah BUMN tersebut.

Empat aksi korporasi yang akan dilakukan yaitu, Sebanyak 41 perusahaan akan dipertahankan dan dikembangkan, 39 perusahaan dikonsolidasikan atau demerger, 19 perusahaan dikelola atau masuk ke PPA, dan 14 perusahaan dilikuidasi melalui PPA. Arya tidak merinci BUMN mana yang akan dimerger. Namun, secara historis, ada beberapa BUMN yang merupakan hasil merger. Misal, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Bank berlogo pita emas itu merupakan hasil gabungan empat bank pelat merah pada 1999,