Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan meminta PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) untuk berbenah. Dibanding sibuk mengurusi konflik internal, operator Shopee Liga 1 dan Liga 2 2020 ini dituntut segera memastikan nasib kompetisi.

Seperti diketahui, beberapa waktu terakhir terjadi kisruh setelah Direktur PT LIB Cucu Somantri memasukkan anak kandungnya, Pradana Aditya Wicaksana sebagai General Manajer PT LIB. Meski Cucu membantah, keberadaan Pradana di jajaran PT LIB telah berlangsung sejak lama. Pradana terlihat beberapa kali hadir di pertemuan PT LIB.

Mochamad Iriawan dan Cucu Somantri adalah ketua dan wakil di kepengurusan PSSI. Keduanya terpilih dalam Kongres PSSI pada November 2019. Iriawan dan Cucu belakangan ini sedang dalam sorotan, keduanya terindikasi kurang harmonis, berkaitan dengan dugaan praktik nepotisme.

Dalam perjalanannya, hubungan Iriawan dan Cucu justru tak harmonis, sehubungan dengan dugaan praktik nepotisme yang kini jadi sorotan. Iriawan memiliki adik ipar, Maaike Ira Puspita, yang menjabat sebagai wakil sekjen PSSI. Jabatan tersebut di PSSI sejatinya tidak pernah ada sebelumnya.

Bagaimana dengan Cucu yang juga menjabat sebagai direktur utama di PT Liga Indonesia Baru (LIB)? Anaknya, Pradana Aditya Wicaksana, dikabarkan berpeluang mengisi posisi general manajer. Padahal belum ada keputusan di Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Mantan Manajer Madura FC, Januar Herwanto, menyayangkan konflik internal seperti itu. Dia juga kecewa karena Iriawan selaku ketua umum PSSI tak memberi contoh dengan baik.

“Tapi ternyata di era Iwan Bule (sapaan akrab Iriawan) pola dan bentuk yang ada justru mempertontonkan praktik nepotisme. Berawal dari adik iparnya, kini merambat ke anak pak Cucu. Ya jangan salahkan kalau itu terus terjadi,” kaya Januar.

“Semoga saja dalam pembentukan timnas tak berlaku pula sistem nepotisme, PSSI wajib terbuka, PSSI bukan milik keluarga atau kerabat petingginya saja,” tegasnya.

Ketua Aspriov PSSI DKI Jakarta, Uden Kusuma Wijaya, juga angkat bicara. Dia justru mempertanyakan sikap dari pihak yang tidak setuju dengan adanya anak Cucu di posisi general manajer.

“Mungkin Pak Cucu memilih karena ada unsur kenyamanan. Toh kinerjanya sejauh ini tidak ada masalah, kalau ada masalah baru layak diperdebatkan. Namanya organisasi pasti ada perdebatan. Tidak ada masalah jika ujungnya demi kebaikan,” katanya.

Sementara itu, dikutip dari CNNIndonesia.com (rabu, 29/04), anggota Exco PSSI, Yoyok Sukawi, mengklarifikasi kabar yang menyebutkan ada konflik antara PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator kompetisi Liga 1 dan Liga 2. Yoyok menyatakan perbedaan pendapat adalah sebuah hal yang biasa dalam sebuah organisasi. Namun, Yoyok memastikan kendali dan keputusan akhir tetap ada di tangan Ketua Umum maupun Kongres.

“Sebenarnya kalau menurut saya itu yang ramai di medsos [media sosial] sama media online [massa] saja. Di luar mungkin terlihat seperti saling adu argumen. Sebenarnya tidak ada masalah, tidak ‘panas-panas’ banget. Tapi namanya PSSI itu kan selalu panas,” kata Yoyok melalui sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com, Rabu (29/4).

Sejauh ini Yoyok mengatakan koordinasi dan komunikasi antara PSSI, anggota Exco, dan LIB tidak mengalami kendala. Begitu juga kendali organisasi yang disebut masih tegak lurus di tangan Ketua Umum, Mochamad Iriawan.

“Tidak mungkin ada konflik, karena LIB adalah perusahaan yang dibentuk PSSI buat mengurusi liga dan tugas itu jelas ada di AD/ART PSSI. Tapi yang memegang kendali tetap Ketum walaupun direkturnya profesional atau yang ditunjuk pemegang saham. Pak Cucu [Direktur Utama LIB, Cucu Somantri] yang memilih Ketum, beliau juga Wakil Ketum PSSI,” jelas Yoyok yang juga anggota Komisi X DPR-RI tersebut.

“Isu ini kan ramai karena kemarin ada anaknya Dirut yang jadi Manajer. Semua itu ada mekanismenya dan aturannya. LIB melangkah sesuai dengan aturan perusahaan. Untuk mengangkat sekelas Direktur dan Direktur Utama harus melalui RUPS, kalau manajer dan lainnya cukup melalui kewenangan Direktur yang diputuskan di rapat Direksi dan dilaporkan ke Komisaris.”

“Bukan berarti di PSSI bakal ada dua matahari kembar atau dualisme, ya enggak begitu. Tapi memang PSSI dan LIB harus ada kontrol, yang mengawasi. Isu ini pasti mengganggu PSSI dan LIB karena pekerjaan kita, integritas kita dinilai dari kepercayaan masyarakat,” ucap Yoyok.