Kemudian satu musim berikutnya giliran Franco Morbidelli berstatus juara dunia. Tom Luthi sendiri runner-up lewat torehan dua kemenangan dan sepuluh podium. Berkat performa mengkilap di Moto2 2017 inilah, Tom Luthi yang sudah tak berusia muda akhirnya direkrut tim satelit Honda di

MotoGP, Marc VDS. Sayang selama MotoGP 2018, sepak terjangnya begitu buruk. Hasil terbaiknya hanya finis ke-16 pada balapan MotoGP Prancis, Republik Ceska, Australia, dan Malaysia yang artinya ia gagal mendapatkan poin.

Gagal di kelas MotoGP, untungnya kemampuan sang pembalap masih diminati tim Moto2. Dia kembali turun kelas dengan memperkuat Dynavolt Intact GP pada Moto2 2019. Hasilnnya kembali positif. Dia merasakan satu kemenangan, delapan podium, dan menempati posisi ketiga klasemen pembalap. Artinya Tom Luthi memang lebih berjodoh pada kelas Moto2. Tidak heran, dengan keberadaan sosoknya, Pertamina Mandalika SAG Team menargetkan bisa bersaing jadi juara dunia kelas Moto2 2021.

Sementara Bendsneyder yang berasal dari Belanda dan memiliki darah Indonesia akan menjalani musim keempat di kelas Moto2. Menjalani debut Grand Prix di Moto3 pada 2016, Bendsneyder mengaku punya darah Indonesia pada 2017, setelah rider WorldSBK, Michael van der Mark, yang juga dari Belanda, mengumumkan bahwa nenek dari pihak ibunya berasal dari Ambon. Sama seperti van der Mark, Bendsneyder juga mendapatkan darah Indonesia dari kakek dan neneknya, yang pindah ke Belanda pada 1956 dari Surabaya.

Uniknya, mereka masih sering mengunjungi Indonesia untuk bertemu dengan keluarga dan kawan-kawan mereka. Bendsneyder lahir pada 4 Maret 1999. Ia tidak lahir di Indonesia, melainkan di Rotterdam, Belanda, yang uniknya juga menjadi tempat tinggal van der Mark selama ini. Ia juga merupakan anak semata wayang di keluarganya. Meski Belanda sangat dikenal dengan para rider motocross ternama di MXGP seperti Jeffrey Herlings, Davy Pootjes, dan Glenn Coldenhoff, Bendsneyder ternyata tak memulai karier balapnya di arena tersebut. Ia justru langsung turun di ajang road racing pada usia 12 tahun.

Ia berkompetisi di kejuaraan nasional Jerman dan Belanda, mengendarai motor Honda NSF100 dan Moriwaki. Kemudian, pada 2014, ia turun di kelas Moto3 Jerman, sebelum pindah ke Red Bull Rookies Cup pada 2015. Selama turun di Red Bull Rookies Cup, Bendsneyder melawan banyak rider yang kini juga turun di ajang Grand Prix, seperti Fabio di Giannantonio, Ayumu Sasaki, Raul Fernandez, Kaito Toba, dan masih banyak lagi.

Bendsneyder tampil sangat dominan di Red Bull Rookies Cup kala itu. Rider yang identik dengan nomor balap #64 ini sukses merebut 10 podium, yang delapan di antaranya merupakan kemenangan. Pada akhir musim, ia jadi juara, mengalahkan Giannantonio dan Sasaki. Sembari turun di Red Bull Rookies Cup, Bendsneyder juga turun di ajang FIM CEV Moto3 Junior World Championship. Saat itu, ia mengendarai Honda bersama Dutch Racing Team. Ia mengakhiri musim di peringkat 7, dengan raihan satu podium.