Sebuah Rumah tua di tengah kebun jati Gunungkidul viral di media sosial (foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Sebuah Rumah tua di tengah kebun jati Gunungkidul viral di media sosial (foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)

DOMIGADO – Viral! Sebuah foto rumah tua yang masih berdiri kokoh di tengah hutan jati yang terletak di Padukuhan Pati, Kalurahan Genjahan, Kapanewon Ponjong, Gunungkidul, telah menjadi perbincangan netizen dan viral di media social. Rumah tua yang viral tersebut ternyata adalah bangunan yang mengandung banyak sejarah ditempat itu. Bagaimana kisah rumah tua itu hingga menjadi viral di media sosial? Berikut ulasannya.

Foto rumah tua dengan material kayu yang terlihat usang dan tidak berpenghuni tersebut ternyata adalah rumah mantan Bupati Gunungkidul Prawiro Suwignyo. Prawiro Suwignyo adalah Bupati Gunung Kidul yang ke 18 dan menjabat pada tahun 1958-1959. Rumah tua itu masih terlihat berdiri kokoh, karna sebagian besar materialnya terbuat dari kayu jati.

Memiliki tampilan depan dengan banyak jendela, rumah ini menunjukan arsitektur khas rumah bergaya Jawa-Belanda. Beberapa bagian dirumah tersebut terlihat sudah rusak termakan usia. Lokasi sekitar rumah itu juga tergolong sepi tak ada penghuninya. Dari penulusuran yang dilakukan, ternyata rumah tua yang viral tersebut menyimpan fakta-fakta yang menarik. Dilansir dari laman detikcom (25/9), berikut 7 fakta yang terungkap.

1. Rumah tua viral itu ternyata milik Bupati ke-18 Kabupaten Gunungkidul

Ahli waris yang pernah tinggal di rumah tersebut, Martanty Soenar Dewi menjelaskan bahwa rumah itu adalah milik eyangnya. Eyangnya itu adalah Prawiro Suwignyo, bupati ke-18 di Gunungkidul.

Dia juga menjelaskan bahwa luasan lahan sekitar 5000 m2. Di atas tanah itu, kata Martanty berdiri bangunan rumah milik Bupati Kabupaten Gunungkidul periode 1958-1959 yakni Prawiro Suwignyo.

“Itu rumah eyang saya, eyang saya dulu Kepala Daerah (Bupati) ke-18 Gunungkidul namanya Prawiro Suwignyo,” ucapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (23/9/2020).

2. Didirikan antara 1920-1925

Menyoal berdirinya rumah, dia tidak tahu pasti kapan. Namun, dia memperkirakan rumah itu telah ada sejak sebelum Indonesia merdeka.

“Kalau sejak kapan berdirinya rumah itu saya kurang tahu, kemungkinan antara tahun 1920-1925,” ucap Martanty.

3. Rumah tua viral yang masih berdiri saat ini hanya bagian depan saja

“Dulu sebetulnya di belakangnya itu ada bangunan lagi besar, itu (rumah saat ini) hanya bangunan depan saja sebetulnya, seperti itu. Tapi ada terasnya dulu, asri gitu banyak tanaman, pohon. Saat ini sudah habis semua,” katanya kepada detikcom, Kamis (24/9/2020).

4. Bangunan utama kediaman sudah ambruk

Mengingat eyangnya yakni Prawiro Suwignyo masih keturunan dari Mas Tumenggung Pontjodirjo. Menyoal bangunan, Martanty menyebut bagian belakang rumah sudah ambruk karena termakan usia dan oleh saudaranya dimanfaatkan.

“Terus belakangnya itu ada rumah besar lagi, tapi saat ini sudah ambruk, mungkin (materialnya) diambilin saudara. Jadi hanya rumah depan itu saja yang dipertahankan,” ujarnya.

Rumah yang sebagian materialnya terbuat dari kayu jati tersebut masih berdiri kokoh (foto: kompascom/Markus Yuwono)
Rumah yang sebagian materialnya terbuat dari kayu jati tersebut masih berdiri kokoh (foto: kompascom/Markus Yuwono)

5. Rumah Termegah pada zamannya

Selain itu, rumah tersebut dahulunya menjadi pusat kegiatan masyarakat sekitar. Mengingat rumah itu memiliki halaman yang luas dan bangunannya tergolong mewah saat itu.

“Zaman dulu itu menjadi rumah yang paling bagus di lingkungannya, karena dulu ada fasilitas seperti badminton di depan, fasilitas untuk orang sekitar dan di teras digunakan untuk main musik keroncong bapak-bapak anak muda, itu kalau saat ada eyang,” katanya.

6. Keturunan pemilik rumah berencana melakukan pemugaran

Menyoal rencana ke depan terkait rumah itu, Martanty mengaku berencana memugarnya. Pemugaran itu, kata dia, tetap mempertahankan bentuk aslinya.

“Kami sudah berembug ingin dipugar untuk transit kalau keluarga pada datang ke Ponjong, tapi belum kesampaian sampai sekarang. Kalau dipugar kita ingin mempertahankan bentuk itu seperti itu (bentuk aslinya),” ucapnya.

7. Dinas Kebudayaan Gunungkidul mengkaji dijadikan cagar budaya

“Tentunya nanti bisa kita intervensi untuk studi kelayakan, studi teknis dan mungkin nanti pada pembangunan fisiknya. Yang penting nanti yang bersangkutan tidak keberatan untuk kami jadikan sebagai cagar budaya,” ujar Kabid Warisan Budaya, Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, Agus Mantara.

Saat ini, kata Agus pihaknya akan melakukan survei ke rumah tersebut agar proses menjadikan bangunan tersebut sebagai cagar budaya semakin cepat.

“Kami akan survei dan kami lihat siapa pemiliknya. Kemudian pemiliknya akan ditanya boleh gak nanti kita kaji untuk kita jadikan cagar budaya. Rencana Rabu (pekan depan) kami akan survei ke sana (Ponjong),” ujarnya.