Ada museum Jihad di Afghanistan (Foto: Shah Marai/AFP)
Ada museum Jihad di Afghanistan (Foto: Shah Marai/AFP)

DOMIGADO – Jika media sosial Indonesia beberapa hari belakangan ini dihebohkan dengan beredarnya video Adzan Jihad, di Afghanistan bahkan sudah ada meseumnya. Museum ini diberi nama Museum Jihad. Seperti apa penampakan dari Museum Jihad yang ada di Afghanistan ini? Dan apa tujuan Museum Jihad di Afghanistan ini dibuat?

Museum Jihad ini berada di kota Herat, kota terbesar ke tiga di Afghanistan. Museum ini dibuat untuk mengenang pertempuran antara tentara Mujahiddin melawan tentara Uni Soviet. Perang ini memiliki dampak yang sangat besar, dan merupakan salah satu faktor yang memicu pembubaran Uni Soviet pada tahun 1991.

Pasukan Soviet pertama kali memasuki Afganistan pada tanggal 25 Desember 1979, dan penarikan pasukan terakhir terjadi pada tanggal 2 Februari 1989. Uni Soviet lalu mengumumkan bahwa semua pasukan mereka sudah ditarik dari Afganistan pada tanggal 15 Februari 1989. Akibat banyaknya biaya yang dikeluarkan dan kesia-siaan konflik ini, Perang Soviet–Afganistan sering dianggap sebagai Perang Vietnam-nya Uni Soviet.

Diorama Museum Jihad di Afghanistan (Foto: AP)
Diorama Museum Jihad di Afghanistan (Foto: AP)

Museum Jihad tentu saja menampilkan diorama layaknya sebuah kisah epos pahlawan yang heroik, tentara Mujahiddin lah yang keluar sebagai pemenangnya. Mereka berhasil memukul mundur tentara Soviet. Setelah 10 tahun lamanya mereka berperang, akhirnya Soviet mengaku kalah dari Afghanistan.

Dilansir dari laman detiktravel, untuk mengenang pertempuran itulah dibangun Museum Jihad di kota Herat. Di dalam museum ini, tergambar diorama situasi perang melawan Soviet saat itu. Tampak ada diorama yang menggambarkan para tentara Mujahiddin berhasil merebut tank musuh, kemudian mereka mengibarkan bendera di atasnya sebagai tanda bahwa mereka berhasil mengalahkan Soviet.

Jihad atau ‘Perang Suci’ memang sudah jadi bagian dari identitas kota Herat. Kembali ke masa 4.000 tahun yang lalu, Herat merupakan wilayah kunci setiap perang berlangsung. Tokoh yang paling berjasa bagi rakyat Herat saat perang lawan Soviet adalah Ismail Khan, pemimpin Mujahiddin sekaligus warga asli Herat. Di masa depan, Ismail bahkan jadi Gubernur Provinsi Herat, periode tahun 2001-2005.

Pengunjung Museum  Foto: AP
Pengunjung Museum Jihad di Afghanistan (Foto: AP)

“Setelah sekian lama perang terjadi di negeri ini, akhirnya kami bisa membangun sebuah tempat untuk merekam semua kejadian tersebut,” kata Abdul Nasir Sawabi, yang membantu mendesain dan membangun diorama di Museum Jihad.

Penduduk Herat saat itu, tepatnya bulan Maret 1979 memberontak melawan pemerintah yang dibekingi komunis Soviet. Mereka mengambil alih kota, lalu membunuh ratusan orang Soviet, termasuk guru-guru dan tentara.

Museum Jihad Afghanistan Dibangun untuk Tujuan Mulia

 (Foto: Aref Karimi/AFP/Getty Images)
Salah satu diorama yang ada di Museum Jihad (Foto: Aref Karimi/AFP/Getty Images)

Meski dibangun untuk mengenang kemenangan Afghanistan atas Soviet, namun sang pencipta museum membangun Museum Jihad tidak untuk mengagung-agungkan perang. Tujuannya lebih untuk mengenang sejarah, pengorbanan serta kekejaman perang, sehingga generasi yang akan datang bisa mengambil pelajaran dari kesalahan para pendahulu mereka.

Sawabi, yang sekarang jadi pengajar seni di Universitas Herat mengaku jiwanya sangat tersentuh ketika terlibat langsung dalam pembangunan Museum Jihad pada 2002 silam. Namun bagi sebagian warga Herat yang lain, reaksinya justru berbeda. Mereka sama sekali tidak terpengaruh akan heroisme Jihad. Namun Sawabi tidak mempermasalahkan itu.

“Meski saat itu saya masih kecil, saya masih bisa mengingat mayat ada dimana-mana dan bagaimana mereka bermandi darah. Semua adegan itu masih teringat di memori saya. Memori itu membuat kami tetap termotivasi. Saya pikir memori itu membantu kami untuk membuat diorama yang sangat ekspresif,” kisah Sawabi.

Diorama Museum Jihad dibuat sedetail mungkin (Foto: AP)
Diorama Museum Jihad dibuat sedetail mungkin (Foto: AP)

Sebelum membuat diorama di Museum Jihad, seniman serta sejarawan memang duduk bersama mewawancarai langsung para pejuang serta penyintas perang, sehingga mereka bisa mereka ulang adegan untuk diorama dengan sangat detail.

Selain diorama perang, senjata-senjata betulan yang digunakan saat itu juga tersimpan rapi di dalam museum Jihad. Ada juga foto-foto korban, keluarga, surat-surat, puisi, serta foto-foto medan tempur yang dipajang di lantai paling atas museum.

“Tempat ini (Museum Jihad) bisa menunjukkan kepada kita betapa kejamnya perang bisa terjadi. Kami, generasi berumur lanjut telah mengalami perang ini, tapi anak-anak yang tumbuh sekarang akan melihat ini hanya sebagai memori. Adegan-adegan ini bisa menunjukkan kepada mereka betapa menyakitkan hidup orang-orang di masa lalu dan bagaimana pengorbanan mereka. Ini bisa jadi pelajaran yang baik bagi mereka,” pungkas Sawabi.