Pantai Gili Trawangan LOmbok

Tak hanya pantai, Lombok juga kaya dengan kecantikan kebudayaannya.

DASAR saya yang memang selalu tertarik dengan heritage dan warisan kebudayaan, dalam memilih destinasi jalan jalan, saya selalu nggak pernah lupa mencari dan memasukkan tempat-tempat kaya nilai kebudayaan dalam daftar perjalanan. Juga saat liburan ke Lombok.

Memang sih kalau cerita soal Lombok, kebanyakan orang akan menyarankan mengunjungi destinasi-destinasi pantai yang luar biasa itu. Terutama Gili Trawangan. Ibaratnya kalau mau ambil foto, nggak perlu pakai photoshop, asal jepret aja hasilnya udah luar biasa bikin menganga. Dan… saya membuktikannya sendiri. Membuktikan keindahan pantai-pantai biru, sebiru-birunya langit sampai kepada biru tosca. 

Lombok adalah tujuan perjalanan yang sudah saya masukkan dalam daftar wajib lihat sendiri, bukan dari televisi atau internet. Untuk yang ‘cantik-cantik eksotik’ karena kebudayaannya, saya memilih Desa Tradisional Sade dan Desa Suka Rara. Syukurnya selain dua tempat yang udah saya masukkan dalam daftar ini, saya mendapatkan bonus beberapa tempat lain seperti Pura Lingsar, Pura Batu Bolong, dan Taman Makam Loang Baloq.

Untuk urusan kebudayaan, masyarakat asli Lombok yang adalah suku Sasak masih sangat kental dengan pengaruh Hindu Bali. Konon kabarnya, Lombok pernah dikuasai oleh kerajaan Bali. Karena itu nggak heran, selama dalam perjalanan mengelilingi Lombok saya menemukan banyak sekali kemiripan dengan Bali, terutama atmosfer Hindu, mulai dari bentuk bangunan yang memiliki gapura, ritual penyembahan, dan pura-pura yang tersebar cukup banyak.

Selain lekat dengan atmosfer Hindu, di sebagian kawasan terutama di daerah Kota Santri, suasana Islami menggantikan atmosfer Hindu yang terasa kuat. Perjalanan di Lombok pun menjadi sangat kaya.

Desa tradisional Sade (berada di Lombok Tengah di jalan raya Praya-Kuta) adalah sebuah desa tradisional yang sangat unik. Unik karena desa ini terikat oleh satu ikatan persaudaraan. Penduduk dalam satu perkampungan adat adalah saudara satu sama lain. Bahkan pernikahan mereka juga adalah pernikahan adat sesama saudara, tidak boleh dengan masyarakat luar.

Cara menikahnya pun unik, tidak boleh melamar karena itu justru dianggap sebagai penghinaan. Yang benar ada lari kawin dengan anak gadis yang disukai. Itu lebih bermartabat menurut mereka.

Ada aturan lain juga yang berlaku di perkampungan yang masyarakatnya hidup dari pertanian dan menenun ini. Anak perempuan diperbolehkan memiliki pacar lebih dari satu, tidak dibatasi. Seberapa banyak pria yang jatuh hati padanya, maka si anak gadis bisa berpacaran dengan mereka. Tapi itu nggak pakai main belakang. Semuanya saling tahu. Jadi… ketika pas kunjungan kencan, pacar yang bertamu itu sampai bisa ngantri lho. Maksudnya jika pacar pertama datang berkencan dan kemudian pacar kedua datang, maka pacar pertama harus dengan lapang dada pamit pulang. Begitupun jika pacar ketiga datang maka pacar kedua harus segera pamit pulang. Ha-ha-ha… bisa kebayang gimana sakit hatinya kan ya…

Tapi keunikan yang paling dikenal dari desa ini adalah tentang rumah tradisional mereka yang dibuat dari kotoran kerbau. Begitu informasi yang saya dapatkan. Faktanya, informasi awal yang saya dengar tersebut tidak sepenuhnya benar. Lantai mereka bukan dibangun dari kotoran kerbau atau sapi. Lantai rumah mereka terbuat dari tanah liat yang dipel dengan kotoran sapi dan kerbau untuk membuatnya menjadi keras, kuat, dan tahan air serta menjadikannya hangat.

Sebagai kenang-kenangan kami membeli beberapa kain tenun yang harganya wajar-wajar saja, juga kalung-kalung lucu dari mata uang kuno yang bagi masyarakat sasak masih dianggap sebagai pembawa keberuntungan.

Seorang penenun di Lombok
Seorang penenun di Lombok. Foto koleksi Eka Dalanta

Untuk keindahan kebudayaan lainnya, ada Pura Batu Bolong dan Pura Lingsar. Pura Batu Bolong indah untuk menikmati senja dari atas bukit batu sembari melihat orang-orang khusyuk sembahyang. Ada momen damai dalam diam senja dan debur ombak.

Nah kalau Pura Lingsar, pura ini cukup menarik menurut saya. Berada di Kecamatan Narmada, Lombok Barat, pura ini adalah pura tertua di Lombok. Di bagian depan pura ada 2 kolam ikan kembar yang ukurannya sama persis, melambangkan keadilan. Di pura ini juga ada banyak ritual menarik dan kepercayaan yang menurut saya sangat luar biasa.

Di pura ini kamu bisa melemparkan koin keberuntungan di kolam keberuntungan yang sudah disediakan. Ini tentunya kalau kamu yakin. Ada juga kumpulan batu yang disusun berjejer di antara patung dewa. Mitosnya kalau kamu berhasil menghitung tiga kali jumlah batu tersebut dan hasilnya sama, maka kamu adalah orang yang sukses di segala bidang.

The Beach

Sunset di Pantai Lombok
Sunset di Gili Trawangan

Untuk urusan pantai, tak usah ragukan lagi. Lombok memiliki sangattttttt…. banyak pantai-pantai yang indah. Jauh lebih indah dari Bali menurut saya. Selama beberapa hari di Lombok saya dan teman-teman mengunjungi banyak pantai-pantai yang indah.

Mulai dari sekadar duduk dan makan jagung di suatu senja sembari menikmati keindahan Pantai Senggigi dari atas penatapan, beradu tawar dengan anak-anak penjual aksesoris gelang tenun di Pantai Kuta Lombok, mengumpulkan pasir merica di Pantai Kuta Lombok dan tentu saja pasir merica Gili Trawangan, tertawa takjub dan berteriak-teriak kegirangan melihat biru dan ajaibnya keindahan Pantai Mawun, memotret dari atas biru dan lepasnya pandangan mata di Pantai Malimbu. Ah semuanya sangat luar biasa.

Travel Note : Eka Dalanta