Ilustrasi Staycation

DOMIGADO – Tahun 2020 seperti sebuah tahun yang berlalu dengan sangat cepat. Tanpa banyak kenangan indah tentang perjalanan. Ibaratnya komputer, setiap orang berharap ada tombol restart sehingga tahun ini bisa di-setting ulang berharap keadaan berubah. Kondisi pariwisata yang macet dan lesu karena virus Covid-19, staycation akan menjadi tren baru wisata pasca pandemi. 

Sejak wabah Covid-19 ditetapkan oleh WHO sebagai bencana kesehatan global pada Maret lalu, dampak negatif yang ditimbulkannya ke berbagai sektor sungguh luar biasa. Sektor pariwisata mungkin adalah sektor pertama yang merasakan dampak negatif itu. Jika dibandingkan dengan virus SARS pada tahun 2002-2003, pandemi Covid-19 ini lebih meluluhlantakkan. 

Sambil menunggu pandemi terkendali dan berlalu, pengelola destinasi wisata mencoba berbenah dan bersiap diri. Menurut Frangky Selamat, Dosen Tetap Program Studi S1 Manajemen Bisnis, FEB Universitas Tarumanagara, staycation menjadi sebuah alternatif yang mengemuka.

Staycation merupakan gabungan dari kata “stay” dan “vacation”. Tinggal dan liburan, konsepnya adalah liburan yang dilakukan di rumah. Konsep staycation populer di negara-negara seperti Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat ketika krisis finansial global terjadi pada tahun 2007-2010. Saat itu, setiap individu atau keluarga berpartisipasi dalam kegiatan liburan di daerah setempat, sambil tetap tinggal di rumah masing-masing. Mereka bisa mengambil bagian dalam beberapa kegiatan seperti perjalanan sehari ke destinasi wisata lokal yang relatif dekat dengan tempat tinggalnya, berenang atau melakukan kegiatan menyenangkan lainnya. Pendeknya, staycation adalah istirahat dari rutinitas sehari-hari tanpa bergerak terlalu jauh dari tempat kediaman. 

Ilustrasi Staycation
Staycation adalah gabungan dari stay dan vacation

Menurutnya ada dua alasan mengapa staycation akan menjadi tren wisata saat pandemi sudah terkendali. Pertama, orang masih khawatir pandemi akan kembali menyerang karena belum ditemukannya vaksin anti virusnya. Sejumlah tempat wisatapun mungkin masih menutup diri. Meski begitu, orang-orang akan rindu melakukan perjalanan wisata. Orang-orang ingin mengobati rasa jenuh setelah berbulan-bulan di rumah saja, stay at home. Pilihannya adalah melakukan wisata tanpa harus beranjak jauh dari tempat kediamannya masing-masing. Wisata di dalam kota, atau wisata jarak pendeklah yang memungkinkan dilakukan. Staycation akan menjadi tren pasca pandemi terkendali. Menginap di hotel-hotel di dalam atau pinggiran kota, melakukan berbagai aktivitas rekreasi di dalam hotel atau daerah sekitarnya akan menjadi pilihan menarik. Faktor keamanan dan keselamatan menjadi pertimbangan orang untuk berwisata saat ini.

 staycation sebuah wisata alternatif
Ilustrasi staycation

Faktor kedua yang mendorong konsep staycation adalah keterjangkauan. Staycation jauh lebih murah dengan jangka waktu liburan yang lebih singkat ketimbang liburan konvensional. Pandemi yang sedang terjadi bagaimanapun menyisakan krisis ekonomi yang memukul daya beli sebagian besar masyarakat. Berwisata memang telah menjadi bagian kebutuhan hidup, namun penghematan biaya tidak kalah penting. Pemborosan besar-besaran sebaiknya dihindarkan, apalagi mengingat situasi belum sepenuhnya normal. 

Itulah sebabnya di kondisi new normal pascapandemi, staycation menemukan momentum yang tepat. Orang-orang ingin berlibur tanpa rasa takut. Rasa takut terhadap pandemi dan rasa takut terhadap krisis ekonomi. Sembari berharap situasi cepat pulih dan kondusif, para pelaku wisata sebaiknya mulai bersiap diri dan mengambil ancang-ancang. Konsep wisata ini akan menjadi pilihan banyak orang dan menjadi langkah awal pemulihan sektor wisata Indonesia.