Kemenangan perang dalam perjuangan bersenjata rakyat Kuba atas kediktatoran Batista bukan hanya merupakan kejayaan kepahlawanan sebagaimana dilaporkan oleh siaran warta berita di seluruh dunia. Kemenangan itu juga mendorong perubahan dalam dogma-dogma lama mengenai perilaku massa rakyat Amerika Latin. Secara nyata ia menunjukkan kapasitas rakyat untuk membebaskan dirinya melalui perjuangan Gerilya melawan pemerintahan yang menindasnya.

14 Desember 1948, pasukan Belanda yang berada  di Indonesia, terutama di Pulau Jawa melancarkan agresi militer 2 dengan sandi Operation Kraai. Yogyakarta sebagai ibukota negara yang juga menjadi markas Tentara Kemanan Rakyat (TKR) menjadi sasaran utama penyerbuan tersebut. Belanda kemudian mengabarkan jatuhnya ibukota Yogyakarta melaui pidato di radio keseluruh penjuru dunia, dan mengatakan bahwa pemerintah RI sudah tidak ada  lagi serta perlawanan dari TNI tak berpengaruh apapun.

Hal ini segera diketahui oleh Jenderal Sudirman. Meskipun fisik Jenderal Sudirman melemah yang diakibatkan penyakit TBCnya, namun tetap saja memutuskan untuk meninggalkan Kota Yogyakarta untuk berGerilya. Pada 22 Desember 1948, Kolonel A.H. Nasution kemudian mengumumkan berdirinya Pemerintah militer di jawa. Pasukan yang semula hijrah akibat dari perjanjian Renville kemudian dibangkitkan kembali untuk melakukan wingate (menyusup dibarisan musuh).

Seperti pasukan Siliwangi yang mulai pergerakan dari wilayah Jawa Tengah menuju wilayah kantong Gerilya yang telah sebelumnya telah disiapkan di Jawa Barat. Serangan dari pasukan Indonesia yang mulai teroganisir tersebut mulai membuat milter Belanda kewalahan. Serangan Gerilya yang dijalankan memiliki tujuan agar memecah konsentrasi militer Belanda yang akhirnya memusatkan kekuatan pada pos-pos kecil untuk saling berhubungan karena alat komunikasi telah di rusak oleh pasukan Gerilya. Hal tersebut menjadikan wilayah pos tersebut menjadi medan perang yang luas dan menguntungkan pasukan Gerilya, karena lebih menguasai keadaan dan kondisi alam.

Sejatinya, perang Gerilya ada lantaran bertemunya kekuatan militer yang tidak berimbang antara satu dengan yang lain. Di Indonesia di zaman kemerdekaan, dimana para pejuang bersenjatakan seadanya harus melawan pasukan Belanda dengan perlengkapan lengkap. Para pimpinan perang dan pejuang pun harus memutar otak mengatur strategi untuk menghadapi peperangan tak seimbang, maka terciptalah taktik Gerilya. Gerilya sendiri adalah perang dengan kelompok-kelompok pasukan kecil yang menyerang secara Hit and Run ke posisi musuh yang rentan untuk diserbu.

Strategi perang Gerilya memang sangat efektif dalam peperangan yang tidak berimbang, hal ini pun melahirkan tokoh-tokoh militer yang ahli dalam strategi perang ini.

Dilansir dari wearethemighty.com dan DocsOnline, berikut 5 tokoh ahli perang Gerilya yang diakui oleh Dunia.

1. Kim Il-sung

Jika rakyat Korea entah Selatan atau Utara ditanya siapakah pahlawan dalam melawan pendudukan Jepang di sana, pastilah mereka sepakat menyebut Kim Il-sung. Kakek dari Kim Jong-un ini memang sangat getol membawa Korea merdeka kembali dari penjajahan Jepang sejak tahun 1910.

Mendapat ilmu kemiliteran di Whasung Military Academy tahun 1926, Kim muda langsung terjun melancarkan perang gerilya terhadap tentara Jepang. Kim bahkan dijuluki oleh Kekaisaran Jepang sebagai Tiger karena kepiawaiannya dalam melancarkan strategi gerilya.

Salah satu kemenangannya melawan Jepang merebut wilayah Poch’onbo dari tangan Jepang tahun 1937.

2. Mao Zedong

Pendiri Republik Rakyat Tiongkok, Mao Zedong, boleh dikatakan sebagai seorang from zero to hero. Lahir dari keluarga petani miskin, Mao terbiasa bekerja keras sedari dirinya masih kecil. Tumbuh di lingkungan kaum Proletar membuat Mao muda ikut dalam Revolusi Xinhai untuk menggulingkan Dinasti Qing yang ia anggap selalu menyusahkan rakyat.

Mao kemudian masuk kemiliteran China untuk ikut perang gerilya sejak tahun 1937 melawan tentara Jepang yang menduduki beberapa wilayah di Tiongkok. Usai Jepang menyerah kepada Sekutu tahun 1945, Mao kemudian memerangi kaum Nasionalis China pimpinan Chiang Kai-shek yang menyebabkan perang saudara di sana.

Dengan taktik gerilyanya, Mao berhasil menendang kaum nasionalis China yang dibekingi Amerika ke Formosa hingga akhirnya Chiang Kai-shek mendirikan negara Taiwan di pulau tersebut.

3. Che Guevara

Sahabat seperjuangan pemimpin Kuba Fidel Castro dan seorang sastrawan, El Che alias Che Guevara amat dikenal akan kiprahnya dalam perang Gerilya menggulingkan diktator Kuba Fulgencio Batista pada tahun 1958. Ia bersama Fidel Castro sempat harus bersusah payah bergerilya di hutan Sierra Maestra karena kalah ketika menyerbu Barak Moncada tempat pasukan pemerintah bercokol.

Usai menghimpun kekuatan kembali di Sierra Maestra, maka pada tahun 1958 El Che bersama Fidel Castro dan para Revolusioner turun gunung menyerbu Santiago de Cuba. Pertempuran tak terelakkan antara kaum revolusioner melawan tentara pemerintah Batista.

Batista kalah, ia kabur ke Republik Dominika dan sejak saat itulah Castro memimpin Kuba berkat bantuan El Che.

4. Vo Nguyen Giap

Commander in chief of the People’s Army of Vietnam, Vo Nguyen Giap (1911-2013) pictured giving a raised fist salute at a press conference in North Vietnam during the Vietnam War circa 1969.

Harus diakui, Vo Nguyen Giap ialah seorang gerilyawan sejati yang menjalani pertempuran berat melawan dua negara raksasa, Prancis dan Amerika Serikat yang menduduki Vietnam. Namanya mulai terkenal saat perang Indochina Pertama 1946-1954 karena kemenangan Vo dalam pertempuran Dien Bien Phu melawan tentara Prancis.

Usai Prancis hengkang datanglah Amerika Serikat ke Vietnam untuk memaksakan kehendaknya membendung pengaruh Komunis di negeri itu. Vo harus masuk hutan lagi, bergerilya lagi bersama milisi Viet Cong dan tentara Vietnam Utara menghadapai pemenang Perang Dunia II Amerika Serikat.

Strategi sangar Vo dalam peperangan ialah saat dirinya merancang Ofensif Tet yang memadukan taktik perang gerilya dan linier. Gegara ofensif Tet inilah titik balik perang Vietnam berada di tangan Vo Nguyen Giap dan memaksa Amerika Serikat menarik pasukannya dari sana pada 30 April 1975 setelah 19 tahun bercokol di Vietnam.

5. Abdul Haris Nasution

Perwira tinggi TNI yang mendapat lima bintang di pundaknya alias Panglima Besar Abdul Haris Nasution, ialah tokoh militer yang hafal luar dalam taktik gerilya. Mulai berkarir di militer saat Belanda membentuk korps perwira cadangan tahun 1940, Nasution tahu bahwa hidupnya kelak memang tak jauh-jauh dari bau mesiu.

Benar saja, ketika Agresi Militer Belanda merongrong kemerdekaan Indonesia, Nasution menyarankan agar dilancarkan perang gerilya menghadapi serdadu Kompeni. Saran Nasution itu disetujui oleh Jenderal Soedirman yang lantas mereka berdua bergerilya menghadapi Belanda.

Keberhasilan TNI dalam perang gerilya melawan Belanda tak lepas dari taktik-taktik yang Nasution canangkan. Taktik-taktik tersebut lantas ia tuangkan ke sebuah buku yang ia beri judul ‘Pokok-pokok Gerilya.’

Asal tahu saja buku Pokok-pokok Gerilya karangan Nasution menjadi bacaan wajib para kadet akademi militer di seluruh dunia termasuk Akademi Militer bergengsi Amerika Serikat, West Point. Konon tentara Viet Cong pimpinan Vo Nguyen Giap juga mencari referensi perang gerilya dari buku ini untuk kalahkan Amerika Serikat di perang Vietnam.