“Sopirnya lumayan agak jutek dan banyak diamnya. Pejalanan ke apartemen sekitar 30 menit kali soalnya agak jauh dari stasiun,” tulis Yusi.

Begitu sampai di tempat tujuan, Yusi mengaku tak melihat satu orang pun di sana, sekalipun di meja respsionis, sementara kunci kamar mereka dititipkan ke sekuriti. Lalu keempatnya naik ke lantai sembilan, ke kamar yang sudah mereka pesan.

Pada malam pertama menginap di apartemen itu, Yusi mengaku berkali-kali dihinggapi perasaan tak enak. Keesokan harinya, ia makin merasa janggal lantaran baru tahu, pemandangan di bawah yang bisa dilihat dari atas balkon rupanya kuburan yang seluruh nisannya hitam.

Setelah itu Yusi dkk pergi berwisata ke Taman Sari, lalu Pantai Parangtritis. Di sana Yusi sempat menikmati pemandangan matahari terbenam, lalu berfoto-foto. Namun, setelah melihat hasilnya, Yusi justru takut melihat foto dirinya sendiri. Apalagi, kata dia, perjalanan pulang memakan jauh lebih banyak waktu daripada saat berangkat.

Pada foto yang dimaksud, Yusi, mengenakan dress hijau-putih dan jilbab hitam, berpose dengan tangan kanan menyentuh kening, dan tangan kiri menopang siku tangan kanan.

“Jujur aku takut lihatnya, kayak bukan aku,” komentar Yusi untuk fotonya sendiri.

Setelah dari Parangtritis, Yusi dkk jalan-jalan dan belanja ke Malioboro, kemudian kembali ke apartemen larut malam. Malam itu keempatnya tidur dalam satu kamar karena takut mengalami kejadian horor. Yusi sendiri sempat merasakan getaran kencang dari bawah kasur secara tiba-tiba, tetapi tak disebutkan penyebabnya.

Saat tiba waktunya pulang ke Surabaya, Yusi dkk meninggalkan apartamen di pagi hari. Namun lagi-lagi, suasana sepi tak ada orang meskipun area parkir penuh mobil dan sepeda motor. Mereka kemudian menuju stasiun Yogyakarta menumpang taksi online lagi. Di dalam taksi, sopir menceritakan sebuah kisah tentang pasutri yang pernah ia antar untuk berbulan madu di apartemen tersebut, yang makin membuat bulu kuduk Yusi dan teman-temannya berdiri. Yusi menambahkan, sopir itu juga menanyakan, apakah ada yang menjaga apartemen atau ada orang di apartemen itu. Semua dijawab tidak oleh Yusi.

3. KKN di Desa Penari

media sosial (Twitter @SimpleM81378523) KKN di Desa Penari
KKN di Desa Penari (Twitter @SimpleM81378523)

Cerita ini bermula dari cuitan berseri di Twitter dari seseorang yang mengaku pernah KKN di desa ujung Pulau Jawa tersebut. Cerita berseri itu kemudian viral dan sudah dibagikan hingga ribuan kali. Lokasi KKN itu di desa yang ada di dalam hutan, dan terkenal wingit (angker). Cerita horor KKN di Desa Penari ini ditulis akun twitter SimpleMan di @SimpleM81378523 secara berseri.

Si penulis dengan sengaja menyamarkan nama-nama desa, daerah dan hutan yang diceritakannya. Ada banyak keganjilan terjadi selama mereka KKN. Menariknya, disebutkan dia bahwa ada kejadian yang akhirnya membuat beberapa mahasiswa-mahasiswi yang ikut KKN di Desa Penari meninggal dunia.

Aroma cinta dan horor dalam cerita yang ditulisnya membuat banyak pengguna twitter penasaran. Mereka mengikuti cerita yang ditulis secara runtut dan apik itu dalam cuitan Twitter. SimpleMan mengatakan itu merupakan sebuah curhatan tentang cerita di masa lalu.

Ada 14 mahasiswa yang berangkat dalam KKN di Desa Penari, namun hanya sekitar enam orang yang banyak diceritakan. Tokoh dalam cuitan cerita berseri itu Widya, Ayu, Nur, Bambang, Wahyu, Bima, serta beberapa mahasiswa dan mahasiswi lainnya.

Cerita KKN di Desa Penari ini sebenarnya ada beberapa versi, cerita versi Widya, Nur dan juga Bambang. Berikut ini penggalan ending dari cerita seram KKN di Kenari versi Nur:

“Bima berteriak ular, ular, ular, ia meninggal lebih dulu dari Ayu, tubuhnya di kebumikan, orang tuanya awalnya masih mau memperpanjang-masalah ini sama pihak kampus, tapi akhirnya di cabut, dengan catatan, KKN tidak lagi di adakan di timur jawa lagi, sejak saat itu, kampus ini, hanya memperbolehkan KKN ke arah barat, tidak lagi timur, apalagi Desa yang jauh.”

“ada hal yang bikin gw radak susah gambarin adalah, narasumber (Widya) disamarkan, setiap beliau bercerita, beliau hanya menceritakan intinya, dan gw harus ngatur ulang ceritanya agar nyambung, terlepas dari itu, gw inget, tiap dia cerita, tanganya gugup, seperti – tidak mau mengulang peristiwa itu. apapun itu, gw berharap cerita ini mengandung hikmah bagi kalian yang membacanya,”

“untuk peserta KKN nya pun sebenarnya bukan 6 orang, tapi 14 orang, gw perpendek untuk mempersingkat cerita beliau yang saling berkaitan satu sama lain, untuk kesalahan, pengetikan, dan bikin kentangnya, gw mohon maaf sebesar-besarnya.”

“memang benar, manusia itu merasa besar, padahal sesungguhnya ada kebesaran lain yang membuat manusia gak ada apa-apanya di balik kalimat kecil, dimanapun kalian berada, junjung tata krama, saling menghormati, saling menjaga satu sama lain, dan senantiasa bersikap layaknya manusia yang beradab.”

gw simple_Man undur diri, untuk waktu yang tidak di tentukan. (kalau yang bersangkutan memperbolehkan post fotonya, akan gw post kok nanti) sampai jumpa. #bacahorror”