Ilustrasi pendakian gunung Everest (Foto: MATT IRVING/NATIONAL GEOGRAPHIC)

Sebagai gunung dengan puncak tertinggi di dunia, Everest menjadi “kiblat” bagi para pendaki gunung. Namun untuk tiba di puncaknya, tentu tak mudah. Everest memiliki predikat sebagai gunung tertinggi di dunia. Ketinggian gunung ini yakni 8.848 meter di atas permukaan laut (mdpl). Gunung Everest juga disebut Chomolungma oleh orang-orang Tibet yang memiliki arti Mother Goddess of the Universe.

Para pendaki yang ingin menakhlukkan puncak Everest membutuhkan bantuan tabung oksigen. Oksigen akan terus menurun hingga sepertiganya saat berada di puncak Everest. Semakin tinggi dari permukaan laut, tekanan udara semakin rendah. Tekanan udara yang rendah tersebut membuat oksigen lebih menyebar sehingga lebih sedikit. Selain oksigen, medan yang ditempuh juga berat. Seperti tebing dengan jurang terjal di sisi kanan dan kiri.

Gunung Everest memiliki suhu yang dingin karena adanya lapisan salju, angin yang kencang, dan tidak jarang juga badai salju menerpa di berbagai sisi gunung Everest. Kondisi extreme di Everest seakan diamini dengan banyaknya pendaki yang meninggal dunia. Data dari Mahitala Unpar, sejak tahun 1924 hingga 2017 ada sekitar 288 yang meninggal dunia di Everest. Tercatat 168  orang meninggal menuju puncak tanpa suplemen oksigen, dan 71 orang meninggal setelah mencapai puncak Everest dan perjalanan turun, kebanyakan mayat pendaki terkubur begitu saja di atas gunung.

Namun, puncak gunung Everest tetap bisa ditaklukkan. Telah banyak pendaki yang dapat menyaksikan pemandangan indah dari atas puncak Everest, tidak terkecuali orang Indonesia. Cukup membanggakan, berikut daftar orang Indonesia yang berhasil takhlukkan puncak Everest yang dilansir dari tabloit NatGeo Indonesia edisi Juli 2020.

1. Clara Sumarwati (1996)

Clara Sumarwati pendaki indonesia pertama yang berhasil mendaki puncak everest
Clara Sumarwati (foto: Repro brilio.net/Syamsu Dhuha)

Clara Sumarwati menjadi orang Indonesia bahkan Asia Tenggara pertama yang berhasil mencapai puncak Everest pada 26 september 1996, melalui jalur utara (Tiongkok). Perjalanan Clara Sumawarti menuju Everest dibantu oleh sponsor dari panitia peringatan 50 tahun Indonesia merdeka. Kala itu, kesulitan yang ia hadapi ialah cuaca ekstrem minus 40-45 derajat Celcius. Oksigen buatan pada tingkat aliran yang tinggi ialah kunci yang membuatnya bertahan.

Atas prestasinya itu, Clara Sumarwati mendapatkan penghargaan Bintang Nararya dari Presiden Soeharto. Selanjutnya, ia diterpa isu bahwa keberhasilannya adalah klaim ia semata, lantaran tak bisa membuktikan dirinya berhasil mencapai puncak Everest.  Namun, beberapa jurnal dan tulisan dari luar negeri mengakui pencapian Clara seperti Everest: Expedition to The Ultimate karya Reinhold Messner (1999), 1997 American Alpine Journal (1997), dan laman EverestHistory.com.

Sebelum menggapai puncak, ia pernah dua kali gagal mendaki Everest. Yaitu pada 1994 bersama lima anggota Kopassus akibat medan berbahaya di jalur selatan. Kemudian pada Juli 1996, saat cuaca ekstrem dan penyakit ketinggian membuat tim ini terpaksa berhenti di titik 7.200 meter di Pegunungan Nuptse.

2. Kopassus (1997)

Anggota Koppasus Asmujiono yg berhasil menaklukan puncak everest
Asmujiono (foto: dok.KOPASSUS)

Di bawah supervise Anatoli Boukreev, pendaki ternama berkebangsaan Rusia, dan dimotori oleh Prabowo Subianto yang kala itu menjabat sebagai Komandan Jenderal Kopassus TNI-AD. Pratu Asmujiono mencapai puncak Everest pada 26 April 1997 pukul 15:40 waktu Nepal.

Menggambarkan saat-saat mencapai puncak, dalam buku The Climb, Anatoli Boukreev memaparkan, “Tiba-tiba Asmujiono melewati Misirin. Ia melakukan serangan ke puncak, berlari dengan sekuat tekad dalam gerakan lambat… Ia mengganti topinya dengan baret tantara dan membuka gulungan bendera negaranya.”

Sebelumnya, bayangan kematian melintasi Asmujiono karena tak sengaja menginjak beberapa mayat pendaki yang tewas. Sampai di puncak, ia membuka masker oksigen, kacamata, dan sarung tangan. Akibat pendakian ini, ia mengalami kerusakan pada mata kanannya.

Menurut pemaparan Boukreev, setelah menghabiskan waktu 10 menit di atas, dengan sersan Misirin masih berjarak 30 meter dari puncak, dan Letnan Iwan Setiawan berjarak 80 meter dari puncak, ia pun memutuskan agar tim ini kembali menuruni gunung untuk menghindari badai yang mendekat.