Pandemi Covid-19 yang sedang terjadi membuat berbagai aktivitas jalan-jalan wisata harus tertunda. Entah itu perjalanan dalam negeri, antar negara, maupun antar benua. Tidak pandang bulu, hampir semua aktivitas pariwisata mengalami “kelumpuhan”. Semua tempat wisata ditutup untuk menghindari kerumunan dan menerapkan anjuran social distancing. Para pekerja pariwisata mengalami sebuah “masa kelam” dan harus mencari upaya lain untuk melanjutkan kehidupan, seperti halnya banyak pekerja kreatif lainnya. Ditengah situasi semacam ini, wisata ramah lingkungan, menjadi tren baru pasca pandemi.

Situs penyedia jasa akomodasi dan perjalanan digital Booking.com melakukan sebuah penelitian. Penelitian ini menemukan sebuah  temuan menarik yang akan memberi angin segar bagi dunia pariwisata sekaligus lingkungan. Angin segar tersebut adalah tren positif yang menjadi komitmen baru para wisatawan, memilih menerapkan wisata berkelanjutan di masa depan. 

Apa sih yang dimaksud dengan wisata berkelanjutan? Tren wisata berkelanjutan adalah sebuah tren wisata yang  berakar pada kepedulian terhadap dampak aktivitas pariwisata terhadap lingkungan. Tren ini mengajak para pelaku wisata bersikap bijak untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan yang timbul akibat berbagai aktivitas wisata. Mengurangi pemakaian bahan-bahan plastik dan memikirkan upaya pengolahan kembali limbah plastik misalnya, pengurangan penggunaan air, mengurangi jejak karbon, memanfaatkan moda transportasi umum, dan menggunakan produk-produk ramah lingkungan adalah beberapa upaya yang bisa dilakukan para wisatawan.

Hasil riset ini menunjukkan bahwa 93% wisatawan Indonesia menganggap wisata berkelanjutan penting bagi mereka, sementara 72% mengatakan mereka akan berkomitmen memilih opsi berkelanjutan ketika berwisata kembali di masa depan. Tentu ini menjadi sebuah kabar baik bagi lingkungan dan kehidupan. Selain itu, melihat dampak nyata aktivitas wisata terhadap lingkungan,  membuat 76% wisatawan memilih hal-hal yang lebih ramah lingkungan dalam keseharian mereka. 

Namun, walaupun banyak dari temuan ini cukup menjanjikan, masih banyak tantangan yang harus dihadapi karena 37% wisatawan Indonesia tidak mengetahui bagaimana cara atau di mana dapat menemukan opsi wisata berkelanjutan, dan 47% menganggap pilihan wisata berkelanjutan cukup terbatas. Ini menunjukkan bahwa masih ada peluang untuk memberikan edukasi mengenai opsi pariwisata berkelanjutan yang sebetulnya sudah ada saat ini.

Hasil riset ini juga menunjukkan bahwa 98% wisatawan Indonesia mengatakan mereka berencana untuk menginap di akomodasi ramah lingkungan di 2020. Dari 78% wisatawan Indonesia yang pernah menginap di akomodasi ramah lingkungan, 51% di antaranya melakukan itu dengan tujuan untuk membantu mengurangi dampak kurang baik terhadap lingkungan. 

Menarik untuk dicatat bahwa ternyata 41% wisatawan Indonesia mengakui mereka akan terdorong untuk memilih opsi pariwisata berkelanjutan jika perusahaan travel menawarkan destinasi alternatif yang dapat mengurangi keramaian. Ini bisa menjadi peluang bagi para pelaku usaha wisata untuk meliriknya sebagai paket wisata yang dapat ditawarkan. Para wisatawan juga mempertimbangkan alternatif moda transportasi untuk mencapai destinasi, 34% memilih bepergian jarak jauh menggunakan kereta dibandingkan mobil untuk mengurangi jejak karbon. 

Ketika tiba saatnya dapat berwisata kembali, temuan-temuan ini menunjukkan ada kemungkinan bahwa para wisatawan akan meneruskan memilih opsi yang lebih bijaksana seperti misalnya pergi ke destinasi yang jarang dikunjungi dan memilih moda transportasi alternatif untuk sampai ke tujuan. 

Kepedulian terhadap lingkungan ditunjukkan melalui upaya menuju bebas plastik dan mendorong akomodasi di seluruh dunia untuk menurunkan jumlah penggunaan plastik sekali pakai. Tren ini akan menjadi perhatian para wisatawan dunia di masa depan. Istilah “pariwisata dan perjalanan berkelanjutan” oleh 12% wisatawan diasosiasikan dengan mengurangi limbah atau plastik daur ulang. 

48% wisatawan Indonesia mengatakan bahwa mereka membawa botol air minum mereka sendiri ketimbang membeli air dalam kemasan saat mengunjungi destinasi selama setahun kemarin, sementara itu 56% mengatakan kalau mereka merasa frustasi ketika sebuah akomodasi melarang mereka untuk melakukan upaya berkelanjutan kala itu. 

Sebagai upaya keterlibatan dan kepedulian untuk ambil bagian dalam tren wisata berkelanjutan ini, Booking.com mengeksplorasi cara-cara baru untuk mengekspos praktik sistem berkelanjutan di semua jenis akomodasi di seluruh dunia, mulai dari mengurangi penggunaan plastik hingga menghemat air dan energi. Langkah-langkah awal ini bertujuan untuk mengekspos praktik berkelanjutan pada properti –yang juga diverifikasi oleh pelanggan- untuk mendukung upaya berkesinambungan. 

Selain memberikan edukasi terkait tips dan informasi untuk membantu properti agar beroperasi secara berkelanjutan, situs ini juga akan menguji fitur-fitur yang memungkinkan properti memperlihatkan upaya penerapan ramah lingkungan mereka kepada para calon pelanggan. Mengurangi pemakaian plastik sekali pakai misalnya, tidak menggunakan sedotan plastik, alat masak, barang pecah-belah, tidak menyediakan perlengkapan mandi dengan botol plastik, atau berhenti menggunakan air dalam kemasan di akomodasi tersebut. 

Riset ini dilakukan secara independen oleh Booking.com dengan total sampel 20,432 responden di 22 wilayah (Brazil, Meksiko, Amerika Serikat, Kanada, Australia, Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Italia, Spanyol, Israel, Jepang, Cina, Taiwan, Korea Selatan, Indonesia, India, Mesir, Maroko, Kenya dan Afrika Selatan). Responden berumur 18 tahun atau lebih, sudah pernah bepergian setidaknya satu kali dalam 12 bulan terakhir, dan juga seseorang yang membuat keputusan atau berpartisipasi membuat keputusan dalam perjalanannya. Survei ini dilakukan secara online pada bulan Maret 2020. Temuan ini menunjukkan bahwa jika wisata sudah dibuka kembali, wisatawan Indonesia memilih opsi berkelanjutan untuk akomodasi dan moda transportasi ramah lingkungan. 

Author : Eka Dalanta