Berburu kuliner jadul di Pasar Kuliner Desa Wisata Lerep Semarang (foto: infopublik.id)
Berburu kuliner jadul di Pasar Kuliner Desa Wisata Lerep Semarang (foto: infopublik.id)

DOMIGADO – Wisata kuliner Semarang. Wisata Kuliner berkonsep jadul kembali menjamur. Di Jawa Tengah misalnya, wisata kuliner dengan menyajikan konsep gerai dan menu-menu jadul semakin marak. Salah satunya adalah Pasar Kuliner Desa Wisata Lerep Semarang yang menawarkan suasana pasar jadul. Seperti apa penampakan wisata kuliner jadul di Semarang ini? berikut ulasannya.

Dilansir dari laman inibaru, menyambangi Pasar Kuliner Desa Wisata Lerep (DWL) seperti masuk ke lorong waktu. Lapak-lapak dari welit (bilah bambu), kostum ala masyarakat Jawa tempo dulu, alat pembayaran berupa koin kayu, dan menu kuliner tradisionalnya yang legit ibarat mesin waktu yang berhasil membawa kita ke masa lalu. 

Meski tidak sepopuler pasar tematik macam Pasar Papringan di Temanggung, pasar kuliner di Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, ini tetap tidak kalah seru. Seperti namanya, pasar yang digelar saban Minggu Pon itu menawarkan berbagai penganan “langka” yang mungkin jarang kita temukan dalam keseharian.

Kamu yang tinggal di Semarang dan sekitarnya tentu harus menyambangi pasar yang dibuka sejak April 2019 lalu tersebut. Di sana, kamu bisa mencicipi berbagai menu kuliner khas Desa Lerep seperti Nasi Iriban, Bubur Suwek, Lodhek, Kopi Klotok, dan Dawet Nganten. Nggak hanya unik namanya, rasanya pun cukup menggugah selera.

Selain itu, kamu juga bisa mencicipi penganan jadul dari berbagai daerah, mulai dari Gethuk Ndeler, Kemplang, Nasi Awot-awot, Sego Megono, hingga Serabi Caonan yang mungkin asing di telinga kita. Hati-hati, karena saking banyak dan uniknya menu yang ditawarkan, bisa-bisa kamu kalap dan program diet yang kamu jalankan bisa gagal.

Suasana pedesaan jadul yang kental

Nggak jauh berbeda dengan pasar tematik yang belakangan marak di sejumlah wilayah di Tanah Air, Pasar Kuliner DWL juga menawarkan suasana pedesaan pada masa lalu. Menyambangi tempat ini, seperti sedang syuting film kolosal macam Wiro Sableng atau Pendekar Tongkat Emas. Gerai di sini memang didesain sedemikian rupa demi kesan jadul yang sempurna.

Untuk membayar makanan, pengunjung harus menggunakan koin khusus dari potongan kayu jati. Alat tukar khusus ini bisa di dapatkan di kasir dengan menukar uang cash kita terlebih dahulu.  Semua penjual yang ada di pasar ini juga berpakaian tradisional. Ada yang mengenakan atasan lurik cokelat atau hijau dengan bawahan batik.

Ada pula yang menggunakan kebaya, lengkap dengan iket batik atau topi caping bambu bagi para laki-laki, para penjual yang merupakan warga Desa Lerep itu luwes melayani pembeli. Selain itu, lapak-lapak yang terbuat dari welit dan bambu beratap daun rumbia kering juga sungguh jadul. Di depan tiap lapak terdapat tampah bambu bertuliskan jenis dagangan yang dijual.

Anti-plastik

Selama pasar kuliner berlangsung, jangan harap kamu menemukan plastik di tempat ini, baik sebagai pembugkus atau tempat makanan dan minuman yang mereka jual. Pasar Kuliner DWL memang menerapkan konsep anti-plastik. Seluruh peralatan makan dan minum di sana sama sekali tidak menggunakan kemasan plastik.

Sebagai gantinya, makanan yang kamu beli dikemas dengan dibungkus daun jati, daun pisang, daun aren, batok kelapa, anyaman bambu, dan mangkok atau piring dari kramik tanah liat. Sendoknya juga terbuat dari kayu, sedangkan gelasnya berbahan seng dan kaca. Hasanudin, salah seorang perangkat desa di Lerep mengatakan, back to nature memang menjadi konsep yang ditonjolkan.

“Pakai bahan alam yang mudah kami dapat seperti dedaunan dan bambu yang tumbuh di kebun kami,” tutur lelaki yang sedang berjaga di loket penukaran koin.

Selama pasar kuliner berlangsung, kamu juga bakal diiring klenengan musik gamelan yang bikin suasana tambah nyes dan syahdu. Saat memejamkan mata, kamu akan benar-benar merasa sedang berada di masa lampau. Pasar Kuliner DWL tetap menawarkan rasa yang berbeda, Kamu yang ingin menikmati kuliner jadul unik nan lezat di Semarang, silakan mampir ke sini tiap Minggu Pon.

Di era sekarang, tentunya kita jarang menemukan makanan tradisional dan juga alami, yang sering kita jumpai sekarang adalah makanan cepat saji yang mungkin mengandung banyak bahan pengawet. Nah, dengan adanya pasar kuliner jadul seperti ini, kita kembali diingatkan dan bisa menikmati berbagai macam makanan dengan bahan-bahan alami dengan nama-nama yang cukup unik.

Mungkin bagi orang tua yang hidup di desa, nama-nama makanan yang dijual sudah tak asing lagi. Namun bagi generasi milenial sekarang, sudah pasti nama-nama menu makanan yang disajikan di Pasar Kuliner Desa Wisata Lerep sangat asing dan bahkan belum pernah mendengarnya. Melalui pasar kuliner ndeso ini, para generasi muda sekarang kembali dikenalkan makanan tradisional.

Makanan-makanan ini tentunya lebih sehat dan higienis daripada makanan di era sekarang. Selain itu, hadirnya Pasar Kuliner Desa Wisata Lerep, turut membantu mendongkrak perekonomian warga sekitar. Dan yang pasti, di era pandemi saat ini, Pasar Kuliner Desa Wisata Lerep sudah menerapkan standart protokol kesehatan yang sudah ditentukan pemerintah daerah.

Pengunjung yang datang diwajibkan untuk mengenakan masker, dan juga menjaga jarak. Pasar Kuliner Desa Wisata Lerep juga telah menyediakan tempat untuk mencuci tangan di pintu masuk, dan juga beberapa titik lainnya. Bagi kamu yang ingin berkunjung kesini, jangan khawatir, protokol kesehatan sudah diterapkan, dan tentu saja keamanan telah dijamin.